Jadi Lokasi Pacaran, Jalur Tanggul Waduk Krisak Ditutup

Pengendara melintasi area Waduk Krisak, Desa Pare, Selogiri, Wonogiri, Senin (6/8/2018). Jalur keluar masuk waduk melalui tanggul bendungan diberi pagar, belum lama ini. (Solopos - Rudi Hartono)
06 Agustus 2018 17:35 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) akan menutup tanggul Bendungan Krisak (Waduk Krisak/Tandon), Singodutan, Selogiri, Wonogiri untuk umum.

Sebagai langkah awal, pihak berwenang membangun pagar di dua ujung jalur menuju bendungan untuk mengurangi aktivitas warga, termasuk orang pacaran.

Pantauan Solopos.com, di Bendungan Krisak, Senin (6/8/2018), ujung jalur bendungan di Desa Singodutan dan Desa Pare diberi pagar besi yang diberi plakat kecil berisi informasi pagar dibuka pukul 05.30 WIB-18.00 WIB.

Warga menginformasikan pagar dipasang sekitar dua pekan lalu. Bendungan yang selesai dibangun 1943 itu merupakan wewenang BBWSBS.

Kepala BBWSBS, Charisal Akdian Manu, mengatakan pemagaran akses menuju tanggul untuk mengurangi aktivitas warga di tanggul bendungan.

Selain untuk lalu lintas sepeda motor, tanggul bendungan kerap dijadikan tempat pacaran pasangan muda-mudi saat sore hingga malam. Padahal, seharusnya bendungan tidak boleh ada aktivitas apa pun, kecuali aktivitas petugas berwenang.

“Bendungan/waduk adalah bangunan strategis dan berisiko [objek vital] yang harus selalu diawasi ketat. Hal itu untuk memastikan tidak ada pihak yang merusak bendungan,” kata Roga, sapaan akrabnya.

Berdasarkan hasil studi rencana tindak darurat bendungan yang telah menjadi SOP [standar operasional prosedur], bendungan harusnya memang tidak boleh untuk akses lalu lintas kendaraan atau aktivitas manusia.

Kebijakan penutupan akses ke tanggul itu diambil setelah pihaknya mengkaji secara mendalam ihwal potensi dampak sosial.

Seperti diketahui, bertahun-tahun tanggul Bendungan Krisak berfungsi seperti layaknya jalan. Tanggul bendungan menghubungkan Pare melalui Dusun Tandon dan Singodutan melalui Krisak.

Tanggul beraspal sepanjang lebih kurang 300 meter dengan lebar permukaan lebih kurang 5 meter. Sisi barat dan timur permukaan tanggul terdapat beton memanjang dengan permukaan datar dengan tinggi sejengkal telapak tangan orang dewasa dan lebar lebih kurang 30 cm (seperti buk jembatan).

Tempat itulah yang biasanya digunakan sebagai tempat duduk orang berpacaran.

Petugas pos jaga bendungan setiap hari berpatroli. Setiap mendapati orang pacaran mereka memberi peringatan. Namun, kebanyakan mereka tak menggubris. Menurut petugas, pasangan muda-mudi yang berpacaran di tanggul bendungan warga luar Selogiri.

Sampai Dini Hari

Warga Desa Pare, Wawan, menginformasikan hampir setiap sore ada orang pacaran di tanggul bendungan. Jumlah mereka mencapai belasan pasangan.

Jumlah pasangan lebih banyak lagi saat akhir pekan. Bahkan, kadang ada orang pacaran sampai dini hari. Wawan risih melihat kelakuan mereka.

“Warga sudah melarang mereka berpacaran di tanggul bendungan. Tak jarang ada pasangan yang malah mengajak ramai [adu mulut]. Sejak jalur menuju tanggul ditutup [menggunakan pagar besi], tidak ada yang pacaran lagi,” kata Wawan.