Ada Taman Bendera Dunia di Hutan Wonoasri Seper Jatipurno

Bendera-bendera dari seluruh dunia terpasang dalam Taman Bendera Dunia di Hutan Wisata Wonoasri Seper (WNS), di Dusun Seper, Desa Balepanjang, Kecamatan Jatipurno, Wonogiri, belum lama ini. (Solopos - Ichsan Kholif Rahman)
06 Agustus 2018 20:57 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Sekitar 34 kilometer (km) dari pusat Kabupaten Wonogiri ke arah timur dan sekitar 1 km dari pusat Kecamatan Jatipurno terdapat Hutan Wisata Wonoasri Seper (WNS), di Dusun Seper, Desa Balepanjang, Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri.

Melalui jalan berbatu pengunjung dapat menikmati barisan hutan pinus yang berbaris berwarna hijau.

Kawasan itu penuh dengan suara kicauan burung dan udara yang segar jauh dari lalu-lalang kendaraan. Sekeliling hutan hanya terlihat pemandangan deretan pohon pinus yang beberapa tampak tumbang terkena bencana angin puting beliung beberapa waktu lalu.

Hutan wisata itu seluas 52,5 hektare. Tak jauh dari pintu masuk, pada lahan berbukit berdiri ratusan bendera dunia. Bendera didirikan setinggi satu meter dengan bahan plat besi yang diwarnai menyerupai bendera negara asal.

Di antara ratusan bendera itu terdapat gapura bertuliskan Taman Bendera Dunia dengan bendera Indonesia, merah putih, di kanan dan kirinya.

Tak ketinggalan bendera kontestan perhelatan Asian Games yang digelar pada 18 Agustus 2018 menjadi perhatian khusus.
Belakangan, pengelola WNS menyulap perbukitan itu menjadi Taman Bendera Dunia. Sebelumnya, hamparan bukit itu hanya lahan berisi bunga-bunga, yang pada saat kemarau sering kali tak kuat bertahan, layu.

“Ratusan bendera dari seluruh dunia kami pasang bukan untuk sementara bertepatan dengan momen Asian Games tapi akan kami pasang permanen sebagai objek wisata baru,” ujar pengelola WNS, Maryadi, saat ditemui Solopos.com, di WNS, belum lama ini.

Objek WNS berbayar senilai Rp10.000/pengunjung. Dengan uang itu, pengunjung tidak hanya bisa menikmati sensasi hutan tapi sudah termasuk kopi atau teh yang dapat ditukarkan di warung-warung di seluruh WNS.

Di dalam WNS, juga ada beberapa wahana seperti rumah pohon, bumi perkemahan, wisata berkuda, outbond, hingga penginapan bagi pengunjung.

Saat ini, hutan wisata itu sudah dikunjungi rata-rata seratusan orang per hari. Pada akhir pekan jumlahnya meningkat berkisar 300-an orang. WNS dikelola dengan sistem bagi hasil antara Perhutani dengan investor, Maryadi, dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Humas Lembaga Masyarakat Desa Hutan, Muhajir, mengatakan keberadaan WNS dinilai membantu meningkatkan ekonomi warga. “Warga ada yang berubah mata pencaharian, dari petani menjadi penjual makanan di WNS,” ujar Muhajir.

Kepala Dusun Seper, Badi, menilai WNS memiliki dampak yang baik bagi perekonomian masyarakat Dusun Seper. Masyarakat dalam wadah LMDH juga mendapat bagi hasil dari penghasilan WNS.