Lazismu Jadikan Kurban Iduladha Sebagai Jaring pengaman Kebencanaan

Salah seorang manajer Badan Pelaksana Lazismu Sragen, Ronny Megas Sukarno, menunjukkan sampel produk rendangmu yang dikemas dalam kaleng berkapasitas 220 gram di depan Kantor Lazismu Sragen, Senin (6/8 - 2018).(Solopos/Tri Rahayu)
07 Agustus 2018 09:40 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Kurban hewan pada perayaan Iduladha diterima Allah bukan sekadar kuantitas hewan kurbannya tetapi juga pemanfaatan atas daging kurban. Selama ini daging kurban lebih banyak terkumpul di pusat-pusat kota sehingga belum menyebar ke desa-desa pinggiran apalagi sampai kepada para korban bencana alam. Atas dasar pemikiran itulah Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Sragen ingin menjadikan kurban sebagai jaring pengaman kebencanaan.

Penjelasan itu disampaikan Ketua Badan Pengurus Lazismu Sragen, Ikhwanushoffa, saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (6/8/2018) pagi. Ikhwan belajar dari riwayat Habil dan Qabil yang menekankan bahwa kurban yang diterima Allah itu bukan sekadar kuantitas dan kualitas tetapi juga pemanfaatannya. Dia bersyukur masyarakat sudah sadar untuk bekurban tetapi di sisi lain Ikhwan prihatin karena pendistribusian daging kurban belum menyentuh kelompok pinggiran yang belum tentu makan daging setahun sekali.

“Pemanfaatan daging kurban masih berputar pada warga sekitar lokasi yang ada pengkurbannya. Kami melihat masih ada ketimpangan dan distribusi daging atau hewan kurban. Nah, Indonesia yang berada di jalur ring of fire menjadi daerah langganan bencana. Setiap ada bencana maka ada keniscayaan dibangun sebuah dapur umum. Gizi dan nutrisi korban bencana ini kadang kala tidak diperhatian. Oleh karenanya, Lazismu hadir dengan konsep kalengingsasi daging kurban supaya memiliki manfaat lebih luas bagi korban bencana alam,” jelas Ikhwan.

Dia menjelaskan pengalengan daging kurban lebih tahan lama dengan jangka waktu sampai tiga tahun. Lazismu sudah mencoba untuk menjadikan daging kurban sebagai daging kalengan atau dimasak rendang kalengan supaya lebih praktis membawanya. “Waktu gempa di Banjarnegara, Lazismu mengirim bantuan daging kalengan, yakni Rendangmu dan Kornetmu. Gempa di Lombok itu pun, Lazismu juga mengirim bantuan berupa Kornetmu dan Rendangmu. Daripada dibagi rata, lebih baik benar-benar bisa dimanfaat bagi warga,” katanya.

Ikhwan mengatakan pengemasan daging kurban dalam bentuk kalengan itu lebih efektif dalam distribusinya. Dia berharap kurban itu mernjadi jaring pengaman kebencanaan. Di catatan saya sampai hari ini [kemarin], jumlah pengkurban yang lewat Lazismu Sragen sebanyak 14 orang. Dia menargetkan capaian kurban di Bumi Sukowati bisa tembus sampai Rp5 miliar. Target tersebut meningkat bila dibandingkan tahun lalu tetapi tidak signifikan.

Ikwan juga memerintahkan seluruh Ketua Kantor Layanan (KL) Lazismu se-Kabupaten Sragen agar bisa berpartisipasi dalam kerja bakti massal. Ikhwan mengimbau agar seluruh KL di Sragen supaya ikut menunaikan program kurban rendangmu/kornetmu. Imbauan tertulis itu disampaikan kepada luruh KL Lazismu Kecamatan.

“Kami meminta agar para KL mengirimkan satu hewan kurban untuk grade A senilai Rp3 juta per orang dan grade B senilai Rp2,5 juta per orang. Kami akan mengelompokkan berupa kurban hewan sapi. Semua daging kurban akan diwujudkan dalam olahan daging dalam kemasan kalengan (rendangmu-kornetmu),” ujarnya.