Kisah Tragis Warga Boyolali Nyaris Terpanggang Bersama 18 Kambingnya

Warga Dukuh Gunungsari, Desa/Cepogo, Boyolali, membersihkan puing-puing rumah yang terbakar, Selasa (7/8 - 2018) dini hari. (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
07 Agustus 2018 17:13 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Peristiwa Selasa (7/8/2018) sekitar pukul 02.00 WIB itu benar-benar menjadi pukulan berat bagi Rusmin, 54, dan keluarganya di Dukuh Gunungsari, RT 004/RW 015 Desa/Kecamatan Cepogo, Boyolali.

Dia bahkan nyaris terbakar hidup-hidup bersama istrinya dan ibu kandungnya kalau saja tidak merasakan hawa panas api dan terbangun dari tidurnya. 

Tokopedia

Saat itu, si jago merah sudah menjilati dinding dan pintu kamar sekitar satu meter dari tempat tidurnya. Langsung saja dia bergegas membangunkan dan menyeret istrinya keluar kamar.

Tak lupa ibunya Tuminah, 80, yang ada di kamar sebelah dia bangunkan kemudian bersama-sama bergegas ke luar rumah. “Pokoknya begitu saya bangun apinya sudah besar. Saya bangunkan istri saya dan ibu saya di kamar sebelah terus kami ke luar,“ ujarnya saat ditemui Solopos.com di bekas rumahnya yang sudah hangus terbakar pada peristiwa kebakaran itu, Selasa.

Saat istri dan ibunya sudah di luar, Rusmin sempat akan kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil benda-benda yang sekiranya bisa diselamatkan. Namun hal itu tak jadi dilakukannya karena dia sudah tertimpa balok kayu yang mulai runtuh terbakar.

“Saya sempat kejatuhan kayu, tapi bisa lari keluar,” imbuhnya.

Saat itu dia ingat ada kambing-kambing di dalam kandang di belakang rumah yang juga harus ia selamatkan. Lalu dia berlari memutari rumah menuju kandang.

Rusmin mengatakan saat itu 21 kambingnya sudah mulai mengembik dan berteriak. Bahkan dia menyaksikan sebagian di antaranya sudah terjatuh lemas.

Sekali lagi Rusmin berusaha menyelamatkan “hartanya” yang masih hidup itu. Ditendangnya pintu kandang agar kambing bisa keluar. Upaya ini berhasil, namun hanya tiga ekor kambing yang bisa keluar karena kayu-kayu kandang tiba-tiba runtuh menghalagi pelarian 18 kambing lainnya.

Bahkan, Rusmin kembali kejatuhan kayu hingga dia tersungkur. “Saya kejatuhan kayu lagi. Tapi kali ini saya sudah tidak bisa berjalan karena pundak saya sakit sekali kena kayu. Saya hanya bisa duduk dan melihat api terus membakar kandang kambing dan juga bagian lain rumah saya hingga semuanya runtuh,” kenangnya.

Sementara warga lain mulai berdatangan dan berusaha memadamkan api dengan peralatan seadanya. Satu unit mobil pemadam kebakaran yang datang beberapa saat kemudian tak mampu menghalau api.

“Saya hanya bisa pasrah dengan keadaan ini,” ujar Rusmin yang terlihat mencoba menenangkan diri.

Setelah hari mulai terang, dia pun menyaksikan kambing-kambingnya sudah hangus terbakar di dalam kandang. Beberapa jam kemudian, tiga kambing yang terlepas hanya ditemukan dua ekor di ladang warga, sedangkan satunya entah ke mana.

Rusmin dan keluarganya memang memelihara kambing cukup banyak sebagai usaha sampingan selain menggarap ladang. Baginya ternak itu merupakan sumber penghasilan sekaligus tabungan. "Sebagian saya jual untuk memenuhi kebutuhan,” ujarnya.

Saat-saat menjelang Iduladha seperti sekarang ini, harga kambing mulai naik, Rusmin pun berencana menjual kambingnya dan uangnya akan dipakai untuk memenuhi keperluan sehari-hari. Setelah peristiwa itu, ia tak berencana menjual dua kambingnya yang tersisa.

Untuk sementara, Rusmin bersama istri dan ibunya akan tinggal di rumah saudaranya di dusun yang sama. Sementara itu, Ketua RT setempat Suyarto mengatakan sudah melaporkan peristiwa itu ke pemerintah desa untuk ditindaklanjuti. “Semoga segera ada bantuan untuk Pak Rusmin,” ujarnya.