8 Warga Klaten Meninggal Dunia karena Leptospirosis

ilustrasi leptospirosis. (Solopos/Dok)
07 Agustus 2018 18:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Delapan warga Kabupaten Klaten meninggal dunia akibat terkena penyakit leptospirosis selama Januari hingga pekan pertama Agustus 2018. Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten mencatat ada 62 kasus leptospirosis selama periode itu.

Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Klaten, Anggit Budiarto, mengatakan kasus leptospirosis di Klaten menyebar. Selama ini, kebanyakan korban adalah para pekerja di sawah seperti petani atau buruh tani.

Tokopedia

Sebaran kasus itu merata mulai dari Jatinom hingga Cawas. Lantaran hal itu, Anggit menuturkan saat ini belum bisa dinyatakan kejadian luar biasa (KLB) leptospirosis.

Leptospirosis merupakan penyakit yang disebarkan melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri leptospira. Hewan yang bisa membawa bakteri itu seperti tikus, kambing, atau sapi.

Bakteri itu menginfeksi manusia melalui luka. Gejala yang dialami orang yang terinfeksi leptospirosis berawal dengan demam, nyeri sendi, serta nyeri otot.

Tren kasus leptospirosis di Klaten dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Terkait peningkatan kasus tersebut, Anggit menuturkan justru ada kesadaran untuk mengatasi kasus leptospirosis.

“Artinya puskesmas dalam memberikan diagnosis sudah tepat. Sosialisasi ke masyarakat semakin membaik sehingga ketika ada gejala langsung berobat. Rumah sakit dalam memberikan penatalaksanaan semakin serius karena di laboratorium kesehatan daerah untuk pemeriksaan sampel leptospirosis itu gratis. Justru kami memaknai tingginya kasus ini karena apa yang sudah dilakukan itu tepat. Kami yakin tahun sebelumnya itu kasus tersebut tinggi tetapi tidak terdeteksi,” kata Anggit saat ditemui wartawan di RSPD Klaten, Selasa (7/8/2018).

Langkah selanjutnya, menurut Anggit, adalah bagaimana menekan angka kasus kematian akibat leptospirosis. Ia menjelaskan sosialisasi terus digenjot agar semakin banyak warga yang mengetahui gejala kasus tersebut.

Selama ini, kasus serangan leptospirosis hingga korban meninggal dunia lantaran keterlambatan pengobatan. “Kalau dilihat dari angka kasus meninggal dunia, jujur harus digenjot dan ditekan agar tidak terjadi keterlambatan dalam proses rujukan,” tutur dia.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Klaten, Wahyuning Nugraheni, mengatakan dari kasus bulan ke bulan ada tren penurunan kasus.

“Dari sisi program setiap kasus sudah dilakukan penyelidikan epidemiologi dilanjutkan penyuluhan ke masyarakat. Penyuluhan tingkat kabupaten juga sudah dilakukan. Harapan kami dari penyuluhan-penyuluhan itu bisa disebarluaskan,” katanya.

Berikut data kasus leptospirosis di Klaten dari tahun ke tahun:

TahunJumlah KasusKorban Meninggal Dunia
2013272
2014220
2015262
2016395
2017457
2018*628


*dari Januari 2018 hingga awal Agustus 2018
Sumber : Dinkes Klaten.