Hati-Hati, Sawah Petani Klaten Dialiri Listrik

Suasana gropyokan tikus di Desa Sekaran, Kecamatan Wonosari, Klaten. Foto diambil belum lama ini. (Istimewa)
07 Agustus 2018 20:40 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN — Serangan tikus terjadi di desa-desa Kecamatan Wonosari. Petani mulai menggelar gropyokan dan memasang listrik untuk menanggulangi serangan tikus yang terasa sejak empat bulan terakhir.

Kepala Desa Sekaran, Kecamatan Wonosari, Hery Tri Marjono, mengatakan tikus menyerang setidaknya di areal persawahan seluas 50 hektare. Kondisi padi di sawah itu mulai tumbuh buah atau hampir panen. Petani setempat lantas menginisiasi gropyokan tikus pekan lalu.

Tokopedia

Kalau di sini, dua bulan terakhir banyak tikus. Masyarakat bersama TNI dan Polri lantas gropyokan buat menanganinya,” kata dia, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Selasa (7/8/2018).

Ia mengatakan gropyokan dilakukan dengan membakar racun tikus dengan bentuk menyerupai long atau mercon. Seusai dinyalakan lalu dimasukkan ke dalam lubang-lubang tikus lalu permukaannya ditutup. Tikus akan menjadi lemas sehingga mudah dibasmi. “Jadi enggak semua digali. Tapi diracun dulu. Kalau ada yang keluar sudah lemas kondisinya,” beber dia.

Ia mengatakan untuk menanggulangi hama tikus perlu pola penanaman serentak. Saat ini di desanya masih sulit untuk menyeragamkan masa tanam karena setiap petani memiliki pola tanam sendiri.

Hal senada juga disampaikan Kaur Kesejahteraan Desa Bener, Kecamatan Wonosari, D. Purbo Aji. Purbo menerangkan selama empat bulan terakhir tikus menyerang hampir seluruh sawah di wilayah Bener. Akibatnya, sebagian petani mengalami gagal panen dan menderita kerugian sekitar Rp3 juta–Rp4 Juta per patok sawah.

Karena tanamnya enggak serentak jadi ada yang gagal panen, ada juga yang kebetulan enggak menanam karena kekurangan air. Sebagian petani berusaha menyelamatkan padinya dengan memasang listrik,” kata dia.

Listrik dinilai lebih ampuh ketimbang gropyokan atau menggunakan burung hantu. Ia menceritakan dalam pemasangan listrik di sawahnya mulai pukul 17.30–19.00 WIB setidaknya ada 30-an ekor mati tersengat listrik. Sawah yang ada jebakan listrik untuk tikus ditandai dengan nyala lampu. “Sumber listriknya pakai genset atau listrik rumah kalau dekat sawah. Biasanya habis maghrib baru dinyalakan dan dipadamkan saat mau diperiksa hasilnya.”

Sebelum pakai listrik, petani mencoba menggunakan burung hantu. Namun, usaha itu dinilai tidak efektif mengingat jumlah tikus di sawah mencapai ratusan. Petani menilai penggunaan listrik paling efektif kendati harus ketat pengawasannya. “Listrik memang cukup berbahaya. Tapi yang paling efektif listrik,” tutur Purba.