Warga Giritontro Harus Siap Rp150.000/Pekan Untuk Beli Air

Ilustrasi air bersih (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
07 Agustus 2018 05:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Sebagian warga Kecamatan Giritontro, Wonogiri, saat ini harus membeli air bersih dalam tangki untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Hal itu sebagai dampak kemarau selama dua bulan terakhir.

Camat Giritontro, Joko Waluyo, mengatakan kemarau panjang sangat berpengaruh bagi wilayahnya. Bahkan masyarakat saat ini telah membeli air dalam tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sejak satu bulan lalu.

Setiap tangki air masyarakat membeli dengan harga Rp110.000 hingga Rp150.000 tergantung jarak pengiriman. “Pertanian kering semua, singkong sudah panen sehingga petani banyak yang tidak tanam dan saat ini fokus mengurus ternak. Desa Jatirejo, Ngargoharjo, Tlogosari, Tlogoharjo, dan Bayemharjo adalah desa terdampak yang mengandalkan air tangki,” ujarnya kepada Solopos.com, Sabtu (4/8/2018).

Desa-desa tersebut tidak memiliki sumur karena kondisi tanahnya berbatu. Beberapa dusun di desa tersebut memiliki belik untuk membantu mengurangi beban pengeluaran air. Hingga saat ini masyarakat desa tersebut masih memiliki penampungan air hujan untuk pemenuhan kebutuhan memasak dan minum.

Pemerintah Kecamatan Giritontro telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk membantu penyediaan air bagi masyarakat. Beban masyarakat Guritontro cukup berat.

Tangki-tangki air yang mereka beli seharga Rp110.000-Rp150.000 per tangki itu hanya cukup untuk sepekan. Kebutuhannya lebih besar lagi bagi warga yang memiliki ternak. Ternak mereka memerlukan air sekitar 10 liter per hari.

Jika masyarakat yang memiliki cukup uang, bisa-bisa mereka tidak bisa minum air. Ia mengakui masyarakat ada yang menggunakan air embung untuk mandi dan mencuci pakaian. Masyarakat meragukan kondisi embung untuk dikonsumsi karena belum mengetahui kualitas air tersebut.

Kecamatan Giritontro memiliki dua embung yang sudah dapat dimanfaatkan di Desa Ngargoharjo dan Jati namun tidak dimaksimalkan warga karena cukup jauh dengan permukiman. Sedangkan aliran sungai hanya akan terisi ketika ada hujan.

Ia menambahkan selain ima desa tersebut, desa lainnya tidak terlalu kekeringan sehingga untuk memenuhi kebutuhan air sehar-hari masih cukup. Masyarakat tersebut memiliki sumur yang airnya cukup banyak.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, mengatakan wilayah yang tidak diguyur hujan sekitar 60 hari memiliki potensi kekeringan. Namun, selama masih terdapat potensi air yang cukup di wilayah itu, belum tentu daerah tersebut kekeringan. Hal ini dikarenakan daerah tersebut memiliki potensi air baku.