Meski Dibatasi, Warga Gedangan Dapat Berkah dari Belik yang Tak Pernah Kering

Warga Dusun Gedangan, Desa Ngargoharjo, Giritontro, Wonogiri, Sugiyo, mengambil air di sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Selasa (7/8/2018). (Solopos - Ichsan Kholif Rahman)
07 Agustus 2018 18:47 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Warga Dusun Gedangan, Desa Ngargoharjo, Kecamatan Giritontro, Wonogiri, memanfaatkan sumber mata air atau belik untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Ketua RT 001 RW 005 Dusun Gedangan, Sagiyo, saat ditemui Solopos.com, di kediamannya Selasa (7/8/2018), mengatakan sumber air Belik Gedangan sangat membantu bagi masyarakat. Air tersebut tidak pernah mengering selama musim kemarau. 

Tokopedia

Seperti diketahui, Giritontro masuk rangking teratas di Jateng mengalami bencana kekeringan dengan tanpa hujan lebih dari 98 hari.

Kendati air di belik Gedangan mesti dibagi merata kepada semua warga, setidaknya warga bisa mengambil berkah dari belik yang tidak pernah mengering selama musim kemarau. Sumber air tersebut digunakan oleh seluruh warga RT setempat.

“Saat ini sumber air di dalam belik berangsur mengecil namun warga masih bisa memanfaatkannya meski harus bergantian,” ujar Sagiyo.

Dalam memanfaatkan air, warga Gedangan yang berjumlah 33 kepala keluarga (KK) tersebut dibagi menjadi dua shift pengambilan, pagi dan sore. Pembagian dilakukan menurut batas jalan bagi RT setempat.

Warga juga membuat kesepakatan hanya boleh mengambil air sebanyak 15 liter atau tiga ember per harinya. Sebelumnya, saat awal musim kemarau warga masih boleh mengambil tujuh ember. Sagiyo memrediksi apabila kemarau terus berkepanjangan, kebijakan tiga ember dapat berubah menjadi dua ember seperti pada musim kemarau tahun sebelumnya.

Tiga Ember

Warga Dusun Gedangan, Musiman, 72, mengatakan sumber air belik di Gedangan berasal dari bukit di desanya yang juga tidak pernah mengering. Air tersebut lebih jernih daripada air mineral. Warga memanfaatkan air tersebut untuk memasak dan minum.

Dia tidak mempersoalkan pembatasan pengambilan air belik sebanyak tiga ember karena air tersebut sudah mengurangi beban biaya untuk membeli air tangki. Air tangki digunakan untuk keperluan mencuci dan memberi minum ternak.

“Mau cari rumput susah maka sapi diberi minum cukup banyak sekitar sepuluh liter setiap harinya,” ujar Musiman.

Berbeda dengan warga Desa Tlogosari yang harus bertahan hidup dengan membeli air tangki lantaran tak memiliki sumber air baku. Warga berulang kali menyedot sumur namun hasilnya nihil.

Sekretaris Desa Tlogosari, Tumirah, mengatakan warga telah membeli air sejak bulan Maret dengan harga Rp130.000 per tangki.