Tanya Kamar Kosong di Rusunawa Jurug Solo Malah Ditawari Beli Rp5 Juta

Rusunawa Jurug, Solo, Rabu (8/8 - 2018) pagi. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
08 Agustus 2018 14:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Dengan perasaan gundah, Agus, 34, melangkahkan kakinya masuk ke kompleks Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Jurug, Kelurahan Jebres, Solo, Rabu (8/8/2018).

Dia berharap pada saat itu bisa menemukan titik terang atas permasalahan tempat tinggal yang dihadapinya. Agus mendatangi Rusunawa Jurug beberapa hari lalu untuk mencari tahu kemungkinan adanya kamar kosong.

Tokopedia

Dia mesti mendapatkan tempat tinggal pengganti karena gubuknya di tepi Jl. K.H. Masykur dipastikan bakal dibongkar Pemerintah Kota (Pemkot) Solo.

Tidak sulit bagi Agus untuk bisa menemui warga yang tinggal di Rusunawa Jurug. Dia mendapati sejumlah penghuni sedang berkumpul di halaman Rusunawa tersebut.

Agus pun tidak mau kehilangan kesempatan dengan bertanya langsung apakah masih ada kamar kosong. Menurut dia, beberapa penghuni di sana mengatakan rata-rata kamar di Rusunawa sudah dimanfaatkan atau ditinggali.

Namun, salah satu di antara mereka menyebut masih ada kesempatan bagi Agus untuk bisa mengakses kamar di Rusunawa. Penghuni itu menyebut tahu ada kamar yang dijual oleh pemiliknya.

"Kata warga di sana paling sedikit saya harus menyiapkan uang Rp5 juta untuk bisa dapat kamar di Rusunawa. Uang itu bukan untuk mendaftar ke Pemkot tapi istilahnya beli kamar ke warga yang sudah mendapatkan hak menempati," kata Agus saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu.

Karena tak memiliki cukup uang, Agus saat itu baru bisa mengumpulkan informasi dari warga Rusunawa. Dia belum menindaklanjuti tawaran membeli kamar di Rusunawa dengan mahar minimal Rp5 juta itu.

Agus berharap bisa menempati Rusunawa secara normal. Namun, dia menyadari hal itu sulit. Agus harus mengantre terlebih dahulu untuk bisa mendapatkan Rusunawa secara resmi dari Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperum KPP) Solo.

Jadi warga pendaftar tidak bisa memastikan kapan bisa masuk ke Rusunawa. Disperum KPP melakukan seleksi terhadap warga yang ingin masuk Rusunawa.

"Kalau tidak lewat belakang [melanggar aturan] saya rasa bakal sulit mendapatkan kamar di Rusunawa. Warga harus mengantre entah sampai kapan. Saya sendiri pernah menumpuk syarat masuk ke Rusunawa, tapi tidak kunjung dipilih sampai sekarang. Saya berharap bisa masuk Rusunawa gratis. Kalau lewat belakang, saya tidak punya uang," tutur Agus.

Agus merasa gembira ketika mendapati kabar Disperum KPP Solo bakal memprioritaskan warga terdampak penertiban lapak atau bangunan di seputaran Kampus UNS Solo untuk masuk Rusunawa. Dia berharap kebijakan itu benar-benar direalisasikan.

Jangan sampai Disperum KPP hanya memberi harapan palsu kepada warga. Agus beharap Pemkot lebih dulu menyiapkan Rusunawa sebelum menggusur rumah warga di tepi Jl. K.H. Masykur maupun Jl. Ki Hajar Dewantara. Warga jelas merugi jika Pemkot membongkar bangunan lebih dulu sebelum menyediakan tempat tinggal pengganti.

Jika itu terjadi Warga harus mengeluarkan uang untuk membayar kontrakan atau indekos sementara. Saat dimintai informasi, seorang penghuni Rusunawa Jurug, Heru alias Boim, mengaku tidak tahu menahu soal adanya kamar di Rusunawa Jurug yang dijual.

Dia berpendapat jual beli kamar Rusunawa sudah lama hilang. Para penghuni selama ini kerap diberi tahu Pemkot agar tidak memperjualbelikan kamar karena menyalahi aturan. Jika ingin pindah, penghuni mesti menyerahkan kamar ke Disperum KPP.

Disperum KPP lah yang berhak menentukan penghuni kamar. Namun, dia tak menampik kemungkinan masih ada penghuni yang nekat menjual kamar kepada orang lain.

"Ya mungkin masih ada penghuni yang nekat mau menjual kamar. Tapi kalau ketahuan pasti kena sanksi. Mereka yang kedapatan nekat menjual kamar, kemungkinan bakal langsung diusir Pemkot. Yang saya lihat sekarang Disperum KPP semakin tegas. Mereka juga lebih ketat mengawasi pergerakan warga yang tinggal di Rusunawa," ujar Boim.