Penderita Gangguan Jiwa Keloran Wonogiri Menangis Baca Al Fatihah

Dokter Spesialis Kejiwaan, Rommy Novrizal (kanan) memeriksa penderita gangguan jiwa di Balai Desa Keloran, Selogiri, Wonogiri, Rabu (8/8 - 2018). (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
08 Agustus 2018 20:15 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Tangis Tukinah tak terbendung lagi ketika ia diminta Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri, Adhi Dharma, maju ke hadapan hadirin saat Pemeriksaan Kesehatan Jiwa di Balai Desa Keloran, Selogiri, Wonogiri, Rabu (8/8/2018) pagi.

Air matanya tak kunjung berhenti ketika ia membaca Surat Al Fatihah di dampingi anaknya, Tri Mularni. Dengan terisak-isak ia membaca ayat demi ayat, Adhi Dharma menyemangati di sampingnya.

Tukinah adalah salah satu dari 36 penderita gangguan jiwa di Desa Keloran. Beberapa waktu lalu, ia dibawa tim Dinas Kesehatan Wonogiri untuk menjalani pemeriksaan di RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso, Wonogiri.

Kala itu, Tukinah sedang dipasung terikat dengan kursi. Ia hidup dalam pasungan selama satu bulan sebelum perangkat Desa Kaloran menyampaikan informasi tersebut ke Dinas Kesehatan yang langsung bertindak dengan cepat.

Tri Mularni terpaksa memasung ibunya karena kondisi Tukinah yang memprihatinkan kala itu. Tukinah sangat mudah marah. Saat sedang marah berbagai perabotan dan berbagai barang ia buang dan ia rusak. Bahkan, genting rumahnya di Dusun Keloran sering kali menjadi sasaran amarahnya.

Hingga akhirnya, Tri terpaksa memasung Tukinah. Namun, Tri segera melapor ke perangkat Desa Keloran hingga akhirnya ibunya mendapat penanganan.

“Jangan sampai ada lagi penderita yang dipasung, mereka juga manusia. Setiap ada penderita gangguan jiwa hendaknya dikoordinasikan dengan pemerintah desa dan kecamatan. Mau pasung rantai, kayu, dan sebagainya jangan lagi. Ini yang terakhir kali, saya berharap dimulai dari Desa Keloran bebas pasung,” ujar Adhi Dharma saat ditemui Solopos.com di Balai Desa Keloran.

Ia juga meminta kepada seluruh masyarakat agar tidak timbul stigma dan bullying kepada penderita karna hal tersebut dapat menjadikan penderita sulit untuk sembuh. Para penderita hendaknya dirangkul dan diarahkan untuk menjadi lebih baik dan agar tidak semakin tertekan.

Tokoh masyarakat Desa Keloran yang juga merupakan anggota Komisi III DPRD Wonogiri, Bambang Sadriyanto, mengapresiasi langkah cepat Dinas Kesehatan melakukan penanganan penderita gangguan jiwa. Tukinah merupakan salah satu bukti penanganan dari pemerintah.

“Saat ini Tukinah sudah banyak peningkatan, wajahnya sejuk tidak seperti dahulu. Semoga penderita yang lain dapat segera membaik,” ujarnya.

Ia mengapresasi seluruh tim yang mengabdi dari pagi hingga malam setiap harinya demi penanganan gangguan jiwa di Desa Keloran. Kepala Desa Keloran, Sumaryanto, mengatakan tidak semua penderita dapat hadir di balai desa untuk menjalani pemeriksaan.

Terdapat satu penderita yang dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk dibawa ke balai desa. Ia bersyukur dengan langkah cepat Pemerintah Kabupaten Wonogiri untuk menangani warga yang menderita gangguan jiwa.

Ia berharap langkah yang dilakukan Dinas Kesehatan dapat berlanjut. Dia juga bersedia menyediakan alat transportasi untuk membantu warga penderita yang hendak kontrol baik di Puskesmas maupun di rumah sakit.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Wonogiri, Supriyo Heriyanto, mengatakan Kabupaten Wonogiri merupakan salah satu kabupaten yang memiliki tingkat yang cukup banyak di Jawa Tengah mengenai kesehatan jiwa.

Data terakhir tercatat di Kabupaten Wonogiri terdapat 1.548 penderita orang dengan masalah kesehatan (OMDK) dan 40 orang dengan gangguan jiwa berat (ODGJ) yang tersebar di 17 Kecamatan di Kabupaten Wonogiri.