Menanti Transformasi Rumah Lowo Solo Jadi Showroom Batik

Rumah Lowo di Jl. Slamet Riyadi Purwosari, Laweyan, Solo, direvitalisasi, Rabu (8/8 - 2018). (Solopos/Muhammad Ismail)
09 Agustus 2018 11:40 WIB Muhammad Ismail Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Papan nama berukuran sekitar 25 meter x 15 meter dipasang di sisi kiri Rumah Lowo peninggalan Belanda di Jl. Slamet Riyadi, Purwosari, Laweyan, Solo. Papan berwarna dasar putih itu bertuliskan tanah milik Batik Keris di bawah pelindungan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng.

Rumah kuno yang juga dikenal dengan nama Gedung Veteran itu tampak rapuh. Kayu di bagian atap banyak yang patah bahkan miring. Dinding tembok yang aslinya dasar putih tampak kusam.

Bau kotoran hewan lowo atau kelelawar menyengat hidung saat mendekati rumah kuno itu. Kotoran kelelawar pun banyak berserakan di halaman rumah hingga dalam rumah. Pemandangan itu memberi kesan angker rumah yang sudah puluhan tahun tak dihuni orang itu.

Rumah berarsitektur Belanda itu terletak persis di perempatan Solo Center Point, Purwosari. Pantauan Solopos.com, Rabu (8/8/2018) siang, sejumlah orang terlihat beraktivitas di rumah kuno itu.

Mereka melepas genting rumah kuno itu sehingga tampak kerangka atapnya. Rumah yang setiap harinya tampak gelap itu berubah terang setelah cahaya matahari siang hari masuk ke dalam melalui atap rumah.

Semua pintu masuk dipasangi jaring. Jaring itu berfungsi mencegah kelelawar kembali masuk ke dalam rumah. Siang itu ada lima sampai tujuh kelelawar yang terjebak dalam jaring itu setelah mencoba masuk ke rumah.

Rumah lowo kini sedang dalam tahap revitalisasi. Revitalisasi dimulai dengan mengusir kelelawar yang jumlahnya mencapai ratusan ekor.

“Rumah Lowo ini sekarang milik Batik Keris. Pemilik baru berencana memanfaatkan rumah kuno berstatus BCB [Benda Cagar Budaya] itu untuk pengembangan usaha perusahaan dengan melakukan revitalisasi,” ujar petugas keamananan Rumah Lowo, Isyak, saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu.

Isyak mengungkapkan revitalisasi dilakukan sejak Senin (6/8/2018) dengan membongkar semua genting rumah dan memasang jaring untuk mengusir kelelawar. Revitalisasi ini mendapatkan pendampingan langsung dari BPCB Jateng.

Pendampingan dilakukan agar revitalisasi tidak mengubah fungsi bangunan utama karena berstatus BCB. “Saya kurang tahu kapan revitalisasi fisik dimulai. Namun, dari pemilik sudah melakukan sosialisasi kepada warga setempat terkait pemanfaatan Rumag Lowo ke depannya,” kata dia.

Lurah Purwosari, Aris Nugroho, mengungkapkan pemerintah kelurahan menerima pemberitahuan dari Batik Keris terkait rencana pemanfaatan Rumah Lowo. Sosialisasi beberapa kali dilakukan bersama warga terkait rencana Batik Keris menjadikan Rumah Lowo menjadi showroom produk batik.

“Sesuai sosialisasi bangunan utama rumah akan dijadikan showroom produk Batik Keris. Sementara di bagian selatan rumah kuno akan dibangun pusat kuliner. Saya mewakili warga Purwosari sangat setuju dengan rencana itu,” ujar Aris saat dihubungi Solopos.com, Rabu.

Aris menjelaskan pemerintah kelurahan sebenarnya ingin memanfaatkan Rumah Lowo itu menjadi tempat pameran produk milik warga. Namun, karena terganjal masalah kepemilihan akhirnya urung dilakukan.

“Penantian panjang pemanfaatan Rumah Lowo sekarang mendapatkan titik terang. Saya sudah mendapatkan persetujuan dari Batik Keris, produk warga Purwosari nantinya bisa dipajang di showroom dengan ketentuan memenuhi syarat lolos kualitas produk,” kata dia.

Ia memperkirakan revitalisasi selesai sampai akhir tahun ini. Rumah Lowo versi baru kemungkinan sudah bisa dimanfaatkan mulai 2019. Aris berharap keberadaan Rumah Lowo baru nanti bisa meningkatkan ekonomi warga dan menjadi tempat unggulan baru bagi wisatawan Kota Solo.