Daripada Listrik, Burung Hantu Lebih Efektif Atasi Tikus Sawah

Warga melihat burung hantu jenis Tyto Alba yang ada di kandang konservasi di Klaten.
09 Agustus 2018 20:00 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN—Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten melarang penggunaan listrik dalam menangani serangan tikus di sawah. Penggunaan listrik dinilai membahayakan manusia dan hewan lain termasuk predator tikus itu sendiri.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DPKPP Klaten, Joko Siswanto, mengatakan penggunaan listrik di sawah selain membunuh tikus juga bisa membunuh ular dan hewan lain yang kebetulan melintas. Listrik itu juga membahayakan petani lain yang sedang beraktivitas di sawah. “Apalagi kalau sawahnya ada airnya. Itu lebih berbahaya lagi karena kawasan yang terkena listrik bisa lebih luas,” terang Joko, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Kamis (9/8/2018).

Joko mengimbau seluruh petugas penyuluh lapangan (PPL) di kecamatan agar menyosialisasikan bahaya penggunaan listrik dalam menangani serangan tikus. Ia merekomendasikan petani agar menggunakan basmiskus, gropyokan, dan penggunaan jaring hingga menggunakan predator alamiah untuk menekan keberadaan tikus.

Gropyokan misalnya efektif dilakukan seusai panen. Sebab, populasi tikus sedang tinggi dan ukurannya masih kecil-kecil,” beber dia.

Hasil pemantauan DPKPP Klaten, dari luas tanam padi sebanyak 15.245 hektare di Klaten, ada empat kecamatan yang terkena serangan ringan tikus yakni Wonosari 3 hektare, Delanggu 1 hektare, Polanharjo 7 hektare, dan Karanganom 1 hektare. “Kami tidak kecolongan karena kami pantau terus-meneurs. Di Klaten, sudah ada upaya-upaya preventif berupa gropyokan, penggunaan basmiskus, jaring hingga predator,” urai Joko.

Penanganan tikus sengaja tidak menggunakan racun karena dikhawatirkan tikus yang memakan umpan beracun akan dimangsa burung hantu. Akibatnya, burung hantu bisa ikut mati. Hal itu terjadi karena efek racun bekerja setelah tiga hari sejak umpan dimakan. “Yang jelas burung hantu enggak suka bangkai tikus. Tikus yang masih jalan-jalan walau sudah makan racun itu dihkawatirkan dimakan burung hantu,” ujar dia.

Koordinator Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) DPKPP Klaten, Sunarno, mengatakan Klaten juga mengembangkan Tyto Alba atau burung hantu putih untuk predator alami tikus. Tyto Alba banyak dibudidayakan di Kecamatan Karanganom dengan pembikinan rumah burung hantu (rubuha). Keberadaan Tyto Alba dinilai efektif mengendalikan populasi tikus.

Di sana ada petani yang secara swadaya bikin rubuha. Ada juga yang didukung pemerintah desa soal pembuatan rubuha. Daya jelajah Tyto Alba ini luas jadi manfaatnya dirasakan ke kabupaten sekitar Klaten seperti Boyolali dan Sukoharjo,” kata Sunarno.