Penyandang Disabilitas di Klaten Dilatih Penanggulangan Bencana

Sukarelawan difabel mengikuti pelatihan di Hotel Edotel SMKN 3 Klaten, Kamis (9/8/2018).(Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
09 Agustus 2018 20:30 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Suara riuh orang berdiskusi mendominasi seisi ruang pertemuan Hotel Edotel SMKN 3 Klaten. Mereka terbagi dalam kelompok-kelompok dengan setiap kelompok terdiri dari empat hingga lima orang. Posisi duduk mereka beragam. Ada yang lesehan di lantai hingga duduk di kursi roda. Kruk bersandar meja dan tembok menjadi pemandangan di sekitar tempat mereka berdiskusi.

Thomas, 46, duduk selonjor di dalam ruangan dan menulis pada kertas putih. Ketiga temannya melingkari kertas itu. Sesekali Thomas mengganti aktivitasnya dengan diskusi. Tepat diseberang Thomas, Supri, 30, berjongkok. Riuhnya ruangan membuat Supri harus bekerja ekstra menangkap diskusi kelompoknya. Sesekali ia mengarahkan telinga agar diskusi kelompok terdengar.

Thomas dan Supri merupakan penyandang disabilitas. Thomas mengalami tunadaksa setelah mengalami kecelakaan pada 2001 lalu hingga salah satu kakinya harus diamputasi. Sementara, Supri penyandang tunanetra.

Mereka tergabung dalam satu kelompok peserta pelatihan fasilitator bagi sukarelawan difabel. Pelatihan digelar selama tiga hari, Rabu-Jumat (8-10/8/2018). Pagi itu, mereka mengikuti pelatihan micro teaching. Diskusi kelompok dilakukan untuk membahas teknik evakuasi, jalur evakuasi, sistem peringatan dini, serta standard operational procedure (SOP) bagi siswa sekolah luar biasa (SLB).

Ini baru kali pertama ikut. Selama ini biasa membantu mengajar Arab braile di SLB.. tetapi, untuk materi kebencanaan kurang paham. Tentu ini sangat membantu bagi saya,” kata Supri asal Desa Melikan, Kecamatan Wedi saat berbincang dengan Solopos.com di sela-sela pelatihan.

Pelatihan yang digelar Unit Layanan Disabilitas (ULD) Penanggulangan Bencana (PB) BPBD Klaten itu diikuti 25 penyandang disabilitas. Selain tunadaksa, ada empat penyandang tunanetra dan empat penyandang tunarungu peserta pelatihan.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Klaten, Nur Tjahjono Suharto, mengatakan 25 orang itu merupakan sukarelawan difabel. Mereka disiapkan menjadi fasilitator yang melatih pengurangan risiko bencana di SLB atau desa dan kecamatan. Materi pelatihan diantaranya tentang micro teaching, teknik evakuasi, serta pertolongan pertama. “Melalui micro teaching ini mereka dilatih bagaimana bisa memberikan pembelajaran tentang PRB,” urai Nur.

Di Klaten ada 11.582 penyandang disabilitas. Mereka tersebar ke berbagai daerah di Kabupaten Bersinar dengan potensi bencana beragam seperti erupsi Merapi, banjir, hingga gempa bumi. Sementara, jumlah SLB sebanyak 12 sekolah. Kelompok difabel menjadi kelompok paling rentan ketika terjadi bencana.

Sementara, pemahaman PRB terhadap kelompok tersebut masih minim. Nur mengatakan penanganan difabel saat bencana terjadi berbeda dibanding kelompok dengan kondisi tubuh normal. Dalam penanggulangan bencana, karakter difabel menentukan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS).

Ketika terjadi bencana sebagai peringatan dini untuk penyandang tunanetra dan rungu tentu berbeda. Dari pelatihan ini mereka disiapkan menyusun EWS harus seperti apa,” kata Nur.

Saat proses evakuasi, pelayanan kepada difabel juga tak bisa disamakan dengan orang dalam kondisi normal. Jika salah urus, justru proses evakuasi menimbulkan bencana lainnya.

Contoh, orang yang menggunakan kursi roda ketika evakuasi kursi roda harus jadi satu. Jadi, tidak boleh diangkat orangnya sementara kursi roda ditinggal. Itu berbahaya. Saat sampai di tempat evakuasi, selter juga harus ramah difabel,” urai dia.

Nur mengatakan pelatihan khusus diberikan kepada penyandang disabilitas. Berbekal ilmu yang diperoleh selama latihan, mereka diharapkan bisa mengerti kebutuhan sesama penyandang disabilitas. “Kalau tidak ada upaya PRB bagi mereka, maka pembangunan inklusinya juga tidak seimbang,” jelas Nur.

Ketua ULD PB BPBD Klaten, Setyo Widodo, mengatakan salah satu tantangan menyiapkan para penyandang disabilitas menjadi fasilitator yakni menguatkan mental mereka berbicara di depan orang banyak. “Sebenarnya pada masalah mentalitas. Kalau sering berlatih, saya yakin mental mereka terbentuk termasuk menguasai teknik menyampaikan materi,” kata Setyo Widodo kerap menjadi fasilitator.