Bupati: Jangan Sampai Siapa Pun Njaluk Duit Sampeyan

Bupati Juliyatmono, menyerahkan bantuan program pemugaran RTLH kepada calon penerima bantuan pemugaran di Pendapa Rumah Dinas Bupati, Kamis (9 - 8). (Sri Sumi Handayani)
09 Agustus 2018 20:21 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR—Bupati Karanganyar, Juliyatmono, memperingatkan penerima bantuan rehabilitasi RTLH agar menolak praktik penyunatan dana.

Bupati menyampaikan hal itu saat menyerahkan bantuan program rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH) dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dispermades). Sasaran bantuan kepada 200 keluarga di 13 kecamatan di Kabupaten Karanganyar. Penyerahan secara simbolis dilaksanakan pada acara Pembinaan dan Pengarahan Bupati Kepada Calon Penerima Bantuan Sosial Kegiatan Pemugaran Perumahan dan Permukiman Perdesaan di Pendapa Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Kamis (9/8/2018).

Tokopedia

"Jangan sampai siapa pun njaluk duwit sampeyan. Ijik tak rungoke uwong njaluk bagian rumangsane berjuang. Sapa wae sing njaluk [uang] lapor aku. Ijik eneng sing nampane Rp6 juta-Rp7 juta, itu menyakitkan," kata Bupati saat memberikan sambutan.

Bupati geram dengan perilaku sejumlah pihak yang tega menyunat uang bantuan untuk warga kurang mampu. "Ora diwenehi duwit tapi barang ajine Rp6 juta-Rp7 juta. Ijik enek sing ngono kuwi. Aku ngerti, mung wegah ngomong selama ini. Ngati-ngati nggih [pesan untuk calon penerima bantuan]. Ndang digarap tak cek," ujar dia.

Bupati berpidato menggunakan Bahasa Jawa dan bersuara lantang. Orang nomor satu di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar itu juga meminta penerima bantuan rehabilitasi RTLH komitmen menggunakan uang untuk memperbaiki rumah. "Wis direwangi, dicakke tenan. Jumbuh karo niyate. Ben omahe sehat. Duwit Rp10 juta dinggo ndandani omah ben brukut, sehat. Sing ora nduwe WC segera lapor. Aja nganti omah ora ana WC. Muga-muga omah berkah, sempulur rejekine," ungkap dia.

Dispermades Karanganyar memaparkan data 200 keluarga penerima bantuan di 13 kecamatan. Perincian data penerima, yakni Kecamatan Karanganyar 14 keluarga, Tasikmadu 16 keluarga, Jaten delapan keluarga, Kebakkramat 20 keluarga, Mojogedang lima keluarga, Karangpandan 20 keluarga, Matesih 17 keluarga, Jumantono 19 keluarga, Jumapolo 10 keluarga, Jatipuro 18 keluarga, Jatiyoso lima keluarga, Kerjo 11 keluarga, dan Gondangrejo 37 keluarga.

"Empat kecamatan tidak mengusulkan, yakni Colomadu, Tawangmangu, Jenawi, dan Ngargoyoso. Sebanyak 200 keluarga itu masing-masing menerima Rp10 juta per keluarga," kata Kepala Dispermades Karanganyar, Utomo Sidi Hidayat, saat memberikan sambutan.

Utomo menjelaskan dasar pemberian bantuan pemugaran RTLH adalah usulan kelompok masyarakat (pokmas). Mereka melengkapi persyaratan, seperti foto kondisi rumah, fotokopi kartu tanda penduduk (KTP), fotokopi kartu keluarga (KK), dan sertifikat tanah. Uang bantuan Rp10 juta per keluarga dicairkan melalui rekening kelompok masyarakat mulai Kamis (9/8/2018).

Setelah pekerjaan selesai, penerima bantuan wajib melaporkan hasil pekerjaan kepada Bupati secara berjenjang dari desa. "Rumah bisa rapet, bagus, sehat. Kalau sudah terima bantuan enggak usah pamer tapi langsung membangun. Uang lewat rekening pokmas atau pribadi kalau satu desa hanya satu penerima. Masyarakat swadaya material, tenaga, dan dana lain sesuai kemampuan," jelas Utomo.

Utomo menegaskan praktik menyunat bantuan RTLH tidak akan terjadi lewat program rehabilitasi RTLH di Dispermades. Alasannya bantuan diberikan by name dan by address. Dia berharap masyarakat ikut andil mengawasi kegiatan program itu.

Salah satu warga penerima bantuan rehabilitasi RTLH, Suhud, menuturkan pendataan calon penerima bantuan dilakukan beberapa bulan lalu. Warga Dusun Tubankidul, Desa Wonorejo, Kecamatan Gondangrejo, itu mengaku akan menggunakan uang Rp10 juta untuk membangun rumahnya. Rumahnya saat ini berlantai tanah, dinding dari tambalan seng, dan atap bambu.

"Mangke ditambahi artane kalih keluarga. Kagem mbangun malih saking fondasi. Cita-cita saya tercapai. Dapat bantuan bedah rumah. Seneng ta," ujar lelaki yang saban hari bekerja sebagai buruh serabutan itu.