Ternak Babi di Jatisrono Cemari Sumur dan Sungai, Bikin Gatal-gatal

Pemilik peternakan babi, Hartono (kanan) dan Sulardi (dua dari kanan) menandatangani surat peryantaan penutupan kandang babi yang disaksikan oleh Camat Jatisrono, Endrijo Rahardjo (kiri) di Balai Desa Jatisrono, Kamis (9/8/2018). (Solopos - Ichsan Kholif Rahman)
09 Agustus 2018 20:22 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Bukan tanpa alasan warga memprotes peternakan babi di Dusun Watugede RT 009/RW 003, Desa Jatisrono, Kecamatan Jatisrono, Wonogiri.

Peternakan babi tersebut tidak hanya menimbulkan dampak bau tapi sampai mencemari sumur dan sungai. Peternakan tersebut akhirnya ditutup paksa.

Nasibnya sama dengan peternakan babi yang berada di RT 010/RW 003 yang juga ditutup pada Juli lalu. Protes tidak hanya dari warga dusun setempat namun juga desa tetangga, tepatnya Dusun Brumbung, Desa Watangsono.

Salah satu warga Dusun Watugede, Gino, mengeluhkan bau dari kandang babi. “Kalau saya hanya mengeluhkan bau, sedangkan warga lain banyak yang sampai gatal-gatal dan panen padi tidak maksimal karena limbahnya dibuang ke sungai,” ujarnya, saat ditemui Solopos.com, di sela-sela musyawarah dengan pemilik ternak di Balai Desa Jatisrono, Kamis (9/8/2018).

Peternakan babi di RT 009 diketahui milik warga Dusun Joho, Hartono dan Sulardi. Peternakan babi telah menyebabkan pencemaran udara karena menimbulkan bau tak sedap. Akibatnya warga juga sering mual dan muntah.

Gatal-gatal

Limbah babi juga mencemari sungai karena kotoran babi dan urine babi di buang ke Sungai Brumbung. Hal ini menyebabkan sumur bor di tepi sungai tercemar dan air tidak bisa digunakan.

Puncaknya warga Dusun Brumbung yang aktivitas banyak disungai mencuci terkena gatal-gatal pada kaki mereka. Warga Dusun Brumbung, Desa Watangsono, Painah, mengaku kakinya gatal-gatal setelah mencuci di Sungai Brumbung.

Menurutnya, air tercemar limbah kotoran babi. Anak dari salah satu warga, Rifky, mengalami gatal pada tubuhnya setelah bermain air di sungai.

Camat Jatisrono, Endrijo Rahardjo, menilai mediasi antara warga dan peternak babi menghasilkan putusan yang baik. Putusan yang sama dengan kasus sebelumnya juga memberi waktu pada peternak untuk menjual babinya sehingga peternak tidak rugi.

Ia juga mengimbau pada peternak membuat paguyuban peternak babi dan lokasi peternakan berada di lain tempat yang jauh dari permukiman dengan memperhatikan aspek-aspek baik perizinan maupun lingkungan. Limbah juga hendaknya dikelola dengan baik.