Kamar Rusunawa Begalon Solo Dijual Rp20 Juta

ilustrasi rusunawa. (Solopos/Dok)
10 Agustus 2018 10:00 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sejumlah penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Begalon, Kelurahan Panularan, Laweyan, Solo, mengklaim praktik jual beli kamar di Rusunawa Begalon kini sudah tidak lagi terjadi.

Namun, para penghuni juga tak memungkiri sebelumnya praktik jual-beli kamar sewa itu pernah terjadi. Harga jualnya mencapai Rp20 juta.

Tokopedia

Penghuni Rusunawa Begalon II, Ngatiman, 71, mengatakan para penghuni Rusunawa Begalon II kini tak berani menjual kamar karena takut mendapatkan sanksi tegas dari Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Hak tinggal warga di Rusunawa bisa seketika dicabut jika kedapatan memperjualbelikan kamar.

Pejabat Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperum KPP) Solo sekarang juga semakin ketat mengawasi aktivitas penghuni Rusunawa. Disperum KPP melibatkan penghuni dalam mengontrol pemanfaatan kamar.

“Rata-rata penghuni sudah sadar akan peraturan. Saya rasa sekarang jarang ditemukan ada penghuni yang berani menjual kamar. Apalagi kini bisa saja penghuni melaporkan penghuni lain yang terindikasi memperjualbelikan kamar mereka,” kata Ngatiman saat berbincang dengan Solopos.com di Rusunawa Begalon II, Kamis (9/8/2018).

Menurut Ngatiman, fenomena jual beli kamar memang sempat marak terjadi saat Rusunawa itu baru dibangun. Warga yang telah mendapatkan kamar tergiur dengan tawaran warga lain yang ingin tinggal di Rusunawa.

Dia bahkan pernah mendapati ada penghuni Rusunawa Begalon I yang menjual kamarnya seharga Rp20 juta. Sementara beberapa penghuni Rusunawa lain dikabarkan pernah menawarkan kamar mereka seharga Rp5 juta sampai Rp10 juta.

Berdasarkan informasi yang berkembang, Ngatiman menyebut kamar di Rusunawa Begalon I yang ditawarkan tersebut dikabarkan laku terjual. Namun, pada akhirnya ketahunan juga oleh petugas Pemkot sehingga pembeli harus menyerahkan kunci ke Pemkot Solo.

“Sebelum tinggal di sini [Rusunawa Begalon II], saya pernah tinggal selama tiga tahun di Rusunawa Begalon I. Saat awal-awal tinggal di Rusunawa Begalon I memang banyak ditemukan penghuni yang nekat menjualbelikan kamar. Tapi lama-kelamaan ketahuan dan dilarang oleh petugas dari Pemkot,” jelas Ngatiman.

Ngatiman bercerita rata-rata penghuni Rusunawa Begalon II sudah saling mengenal satu sama lain. Selama sembilan tahun terakhir kebanyakan warga kerap terlibat dalam kegiatan bersama.

Maka dari itu, para penghuni bisa dengan mudah mencium aktivitas jual beli kamar oleh penghuni lain. Para penghuni bisa melakukan identifikasi jual beli kamar dengan cara menanyai langsung para penghuni baru.

Dia menyebut para penghuni akan melaporkan kepada Disperum KPP jika ternyata penghuni baru itu masuk secara ilegal, yakni salah satunya dengan membeli kamar kepada penghuni lama.

“Seharusnya kalau mau pindah, kamar diserahkan ke Pemkot. Nanti kan Pemkot yang akan mencari penghuni baru. Jadi kamar tidak boleh dijualbelikan. Tetangga kamar saya juga melakukan itu. Karena tak bisa membayar sewa selama tiga bulan, dia akhirnya pergi. Dia menyerah kunci kamar ke Pemkot,” jelas Ngatiman.

Seorang penghuni Rusunawa Jurug, Heru alias Boim, juga mengatakan fenomena jual beli kamar Rusunawa sudah tidak ada. Para penghuni Rusunawa selama ini sudah kerap diberi tahu Pemkot agar tidak menjualbelikan kamar karena menyalahi aturan.

Jika ingin pindah, penghuni diminta untuk menyerahkan kunci kamar ke Disperum KPP. Disperum KPP lah yang bakal menentukan penghuni baru di kamar yang ditinggalkan.

Namun, dia tak menampik masih ada kemungkinan penghuni yang nekat menjual kamar kepada orang lain. Dia menduga aktivitas jual beli kamar itu dilakukan secara terselubung.