Desa Kemudo Klaten Dapat Rp3,7 Miliar Setahun dari Sampah

Pekerja memilah limbah industri di gudang BUM Desa Kemudo Makmur di belakang Kantor Desa Kemudo, Prambanan, Klaten, Kamis (9/8 - 2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
10 Agustus 2018 06:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Selama dua tahun terakhir Badan Usaha Milik (BUM) Desa Kemudo Makmur, Desa Kemudo, Kecamatan Prambanan, Klaten, mengelola limbah kering industri di desa tersebut. Dari situ, BUM Desa Kemudo Makmur mendapat pemasukan hingga Rp3,7 miliar setahun.

Direktur BUM Desa Kemudo Makmur, Purwoto Nur Wahono, mengatakan BUM desa mulai beroperasi sejak September 2016. Limbah kering yang dikelola BUM desa di antaranya karton, plastik, palet kayu, jeriken, alumunium foil, serta gos tank afval bekas pengemas.

Tokopedia

Limbah-limbah itu diperoleh dari perusahaan yang berdiri di wilayah Kemudo. “Kemudo masuk kawasan industri. Di sini berdiri sejumlah perusahaan yang menghasilkan limbah. Limbah-limbah itulah yang kami kelola,” kata Purwoto saat ditemui wartawan di kantor Desa Kemudo, Kamis (9/8/2018).

Limbah-limbah itu lantas didistribusikan ke empat pengepul rosok di Kemudo. Selain itu, limbah didistribusikan ke pengrajin di Kemudo. Ada sekitar 15 pengrajin yang memanfaatkan limbah kering industri seperti palet kayu dibikin kerajinan mebel seperti meja dan kursi atau jam dinding.

Saban bulan, jumlah limbah kering yang dijual BUM desa mencapai 30 ton hingga 40 ton. “Untuk harganya itu seperti pallet kayu satu kotak kami jual Rp65.000 hingga Rp70.000. Namun, kalau ke lembaga RT/RW digunakan sebagai kerajinan kami hargai lebih murah. Intinya pada pemberdayaan masyarakat,” tutur dia.

Purwoto menuturkan omzet BUM desa selama 2017 sekitar Rp3,7 miliar. Sementara SHU yang berhasil dikumpulkan selama setahun mencapai Rp1 miliar.

SHU dibagikan ke APB desa, pengembangan usaha, lembaga RT dan RW, pengurus, serta penanaman modal dengan proporsi diatur dalam peraturan desa (perdes). Sesuai perdes, 33 persen SHU dibagikan ke masyarakat sebagai saham.

Pada 2017, setiap keluarga di Kemudo yang jumlahnya 1.589 keluarga menerima Rp171.000. “Istilahnya tidak ngapa-ngapain setiap keluarga menerima Rp171.000. Belum lama ini kami berikan SHU sampai Rp770 juta,” katanya.

Soal pengembangan BUM desa, Purwoto menuturkan salah satunya dengan menawarkan jasa pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB). “Pembayaran PBB dilakukan secara online. Mungkin ini yang baru kali pertama,” jelas dia.

Kepala Desa Kemudo, Hermawan Kristanto, mengatakan sejak Mei 2018 BUM Desa Kemudo Makmur mengelola pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB). Pengembangan lain yakni wisata edukatif, toko desa, serta pengelolaan sampah rumah tangga.

“Rencana akan mengelola sampah limbah plastik rumah tangga menjadi minyak goreng. Saat ini baru persiapan alatnya dan mudah-mudahan Oktober sudah berjalan,” katanya.