Begini Gaya Lansia Klaten Senam Pakai Jarit

Para lansia di Kecamatan Tulung, Klaten, mengikuti senam massal di lapangan Desa Majegan, Jumat (10/8/2018).(Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
12 Agustus 2018 19:10 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Ny. Darmo Suwito, 70, berdiri di antara orang-orang bergerombol di sisi utara lapangan Desa Majegan, Kecamatan Tulung, Jumat (10/8/2018) pagi. Ia mengenakan kaos lengan panjang berwarna hijau dengan kain bercorak bunga menutupi kepalanya. Jarit melingkar menutupi tubuhnya dari perut hingga mata kaki. Mengenakan sandal jepit berwarna hijau, Ny. Darmo menjadi salah satu peserta senam.

Instruksi menata barisan terdengar dari pengeras suara. Serentak, para lanjut usia (lansia) yang sudah memenuhi lapangan merentangkan kedua tangan. “Terus ngulon [terus ke barat],” seru salah satu wanita lansia yang berdiri sebaris Ny. Darmo sembari merentangkan tangan.

Tak berapa lama, ratusan lansia sudah berdiri bersaf-saf hingga memenuhi lapangan. Musik diputar, ratusan lansia serentak bergoyang. Diiringi musik dengan suara kencang, dua instruktur Supeno dan Musidatun memperagakan gerakan senam lansia seperti tepuk tangan, tepuk jari, tepuk jalin tangan, jongkok berdiri, hingga jinjit. Senam dilanjutkan dengan gerakan senam stamina serta pendinginan.

Sinar matahari yang mulai menyengat tak menyurutkan semangat lansia yang sebagian mengenakan jarit serta daster. Tak terkecuali Ny. Darmo. Meski cara berdirinya tak lagi tegap, nenek asal Desa Sudimoro, Kecamatan Tulung bercucu 15 orang itu terus menggerakkan kedua tangannya ke bawah dan ke atas, mengikuti apa pun gerakan yang diperagakan instruktur. Sebagian temannya memilih mundur lantaran merasa kelalahan. Namun, Ny. Darmo tetap bersemangat mengikuti senam yang berlangsung sekitar 30 menit itu hingga bubar. Ia pun sempat mengangkat sebagian lipatan jaritnya agar leluasa bergerak. “Seneng isoh melu senam [senang bisa ikut senam],” kata Ny. Darmo saat berbincang dengan Solopos.com seusai senam.

Rasa senang juga diungkapkan Tuminem, 70, lansia asal Desa Dalangan, Kecamatan Tulung. “Rasanya senang bisa berkumpul dengan teman-teman. Baru sekali ini mengikuti senam lansia,” kata Tuminem.

Salah satu instruktur, Supeno, mengatakan gerakan-gerakan senam lansia dimaksudkan mengaktifkan syaraf permukaan dan melenturkan pembuluh darah. “Untuk senam stamina itu untuk mengetes kebugaran. Kalau memang tidak kuat ya jangan dipaksakan,” kata Supeno instruktur senam dari Gabungan Kawula Umur Katah (Gakku).

Senam lansia pagi itu diikuti ratusan lansia dari 18 desa di Kecamatan Tulung. Mereka berdatangan dengan menumpang mobil, pikap, hingga diboncengkan sepeda motor. Beberapa memilih bersepeda mendatangi lapangan yang berada di tepi jalan raya Jatinom-Boyolali. Sebelum senam digelar, ada fragmen berkisah hidup sehat yang diperagakan petugas puskesmas serta Camat Tulung, Rohmad Sugiarto.

Rohmad mengatakan senam lansia massal diikuti sekitar 750-1.000 orang. Mereka berasal dari berbagai desa di Kecamatan Tulung. Kegiatan digelar salah satunya untuk memperingati HUT ke-73 Kemerdekaan Indonesia. “Harapan kami orang-orang yang sudah lansia itu merasa bangga ketika mereka dikumpulkan bersama. Mereka merasa temannya banyak,” kata Rohmad.