Klaten Punya Rumah Baca Girli

Seorang anak membaca di rumah baca Girli, Desa Pandes, Kecamatan Wedi, Klaten, Minggu (12/8/2018). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
12 Agustus 2018 20:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Tiang-tiang beton menyangga gazebo berukuran 4 meter x 12 meter agar tinggi lantainya sejajar dengan lantai pendopo dan kantor Desa Pandes, Kecamatan Wedi, Klaten. Gazebo itu dipagari bambu setinggi lutut orang dewasa.

Gazebo tak tertutup dinding. Hanya terdapat kerai-kerai di antaranya digulung bergelantungan di kayu bangunan. Lantai gazebo berupa barisan bambu ditutupi karpet biru. Sebanyak tiga rak melengkapi isi ruangan dengan buku-buku berderet meski tak terisi penuh. Koleksi buku di antaranya cerita anak-anak, buku pintar rangkuman pengetahuan alam lengkap (RPAL), buku bertema sosial, hingga buku peternakan dan pertanian.

Jarak gazebo itu hanya beberapa langkah dari tepi Kali Ujung dibatasi taman dan barisan pagar besi. Tak ada sampah yang hanyut di sepanjang alur sungai. Air mengalir bebas melewati kerikil dan kerakal setelah sebelumnya terjun dari bendungan. Suara deras air yang terjun terdengar dari dalam gazebo. Semilir angin berembus menambah suasana di dalam gazebo kian adem terutama ketika terik matahari kian menyengat.

Gazebo itu diresmikan menjadi rumah baca Girli, Minggu (12/8/2018). Nama Girli disematkan lantaran berada di pinggir kali. Suasana yang dihadirkan di rumah baca itu juga ditujukan agar siapa pun yang datang bisa berlama-lama duduk, selonjoran, hingga rebahan di dalam rumah sembari membaca buku.

Pendirian rumah baca diinisiasi pemerintah desa setempat didasari keprihatinan dengan kondisi anak-anak yang lebih betah memegang gadget ketimbang buku. Niatan mendirikan tempat membudayakan literasi kian kuat ketika datang sekelompok mahasiswa UNS menggelar kuliah kerja nyata (KKN) di Pandes sebulan lalu.

Konsep sebenarnya sudah lama. Tahun lalu kami membangun gazebo. Kemudian kami kolaborasi dengan UNS melalui KKN tematik. Usulan yang kami tawarkan meningkatkan literasi dengan rumah baca,” kata Kepala Desa Pandes, Heru Purnomo, saat berbincang dengan Solopos.com di sela-sela peresmian.

Kenapa rumah baca didirikan di pinggir Kali Ujung? Heru lantas melontarkan peribahasa sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Tak hanya menjadi tempat membudayakan literasi, rumah baca itu juga menjadi tempat edukasi lingkungan. “Karena kami punya program kali bersih,” kata Heru yang juga ketua Komunitas Peduli Kali Ujung tersebut.

Beberapa tahun terakhir, Kali Ujung digarap masyarakat yang tergabung dalam Komunitas Peduli Kali Ujung. Dibantu sukarelawan dari berbagai unsur, komunitas menggelar gotong royong secara terus menerus. Kali yang sebelumnya kumuh menjadi bersih. Bantaran kali yang dulunya menjadi tempat pembuangan sampah diubah menjadi taman. Upaya itu berbuah prestasi. Komunitas Peduli Kali Ujung menjadi juara I pemilihan Komunitas Peduli Sungai tingkat Nasional 2018.

Soal pengelolaan rumah baca, Heru mengatakan sudah dibentuk pengurus berisi anak muda Pandes. Mereka yang bakal merawat buku dan mengadakan beragam kegiatan di rumah baca. Bedah buku hingga bedah film diwacanakan menjadi kegiatan rutin. “Sebagai awalan, anak-anak dan remaja kami jaring dulu agar datang ke sini. Rumah baca juga menjadi tempat untuk kegiatan lainnya seperti komunitas atau PKK. Harapan kami rumah baca ini menjadi magnet berkumpulnya masyarakat,” kata Heru.

Salah satu pengelola rumah baca, Anton, 30, mengatakan ada delapan anak muda yang mengelola rumah baca. Sebagai tahap awal, mereka menambah koleksi bahan bacaan. Saat ini, ada sekitar 450 buku koleksi rumah baca Girli. Selain menambah koleksi, pengelola juga mengarahkan anak-anak yang saban hari memenuhi kantor desa lantaran mencari sinyal wifi.

Setiap sore atau malam itu biasanya ramai. Kami akan coba bagaimana agar mengubah kegiatan mereka mencari sinyal wifi itu dengan membaca buku,” urai dia.

Rumah baca itu buka selama 24 jam. Saat ini, belum ada fasilitas peminjaman buku di tempat tersebut. Warga yang berdatangan diizinkan membaca buku di tempat. “Kalau gagasan kami di rumah baca ini dilengkapi kafe. Sehingga membuat betah yang datang,” ungkapnya.

Dosen pembimbing lapangan KKN UNS, Nurmiyati, dan Yudi Rinanto, mengatakan program pendampingan yang dilakukan KKN selama sebulan terakhir berupa melengkapi fasilitas rumah baca diantaranya rak buku, bahan bacaan, papan tulis, serta meja belajar.

Untuk keberlanjutannya kami tidak bisa memantau. Makanya, sudah dibentuk kepengurusan dari rumah baca. Setelah ini kami akan datangkan salah satu pengelola rumah baca yang sudah sukses dari Boyolali agar memberikan wawasan dan bimbingan pengelolaan rumah baca,” kata Nurmiyati.