Pengusaha Sekitar Flyover Manahan Solo Akhirnya Menyerah

Pengendara sepeda motor hendak masuk ke pintu darurat yang dibuat dengan membongkar salah satu bagian pagar SMPN 1 Solo, Senin (30/7 - 2018). (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
13 Agustus 2018 09:00 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sejumlah pengusaha di Jl. M.T. Haryono Solo yang terdampak proyek jalan layang (flyover) Manahan akhirnya menyerah. Mereka menutup usaha mereka karena Jl. M.T. Haryono ruas taman patung kuda Manahan-perlintasan sebidang Manahan masih ditutup oleh PT Yasa Patria Perkasa selaku kontraktor proyek flyover.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, manajemen Sophie Souffle telah memasang spanduk berisi pengumuman outlet mereka di Jl. M.T. Haryono tutup sementara sejak Jumat (10/8/2018) pagi. Di dalam spanduk yang terpasang di barikade di simpang tiga taman patung kuda Manahan tersebut, manajemen toko roti Sophie Souffle tak menjelaskan secara pasti kapan outlet Sophie Souffle bakal kembali buka.

Tokopedia

Mereka hanya mengarahkan masyarakat untuk mengunjungi outlet lain. "Mohon maaf Sophie Souffle tutup sementara (sampai pemberitahuan selanjutnya). Kunjungi outlet kami di Jl. Honggowongso 2B Solo atau Ruko The Park C1 Solo Baru," tulis dalam spanduk berwarna kombinasi kuning hitam.

Saat dimintai konfirmasi, Manager on Duty Sophie Souffle Solo, Heni Pujiastuti, mengatakan manajemen Sophie Souffle terpaksa menutup outlet di Jl. M.T. Haryono karena keterbatasan akses bagi masyarakat atau pelanggan untuk menuju tokonya.

Dia pun bertanya-tanya kapan PT Yasa Patria Perkasa atau Pemerintah Kota (Pemkot) Solo Jl. M.T. Haryono akan membuka kembali akses yang ditutup. Berdasarkan surat pemberitahuan awal dari kontraktor, penutupan Jl. M.T. Haryono dijadwalkan hanya berlangsung selama dua pekan dari 18 Juli sampai 6 Agustus.

"Betul, kami menutup sementara outlet di Manahan. Kami belum tahu mau sampai kapan outlet itu ditutup. Yang jelas kami akan terus memantau kondisi di lapangan. Mudah-mudahan kontraktor bisa menyelesaikan pekerjaan dengan segera sehingga Jl. M.T. Haryono bisa kembali dilalui kendaraan," jelas Heni.

Pengusaha ban di Jl. M.T. Haryono, Yunus, juga berharap kontraktor bisa segera merampungkan pengerjaan terowongan flyover Manahan di utara perlintasan sebidang Manahan. Penutupan sebagian Jl. M.T. Haryono sebagai dampak dari pengerjaan proyek tersebut begitu mempengaruhi pendapatan para pedagang.

Dia menuntut janji kontraktor yang pernah menyampaikan pemberitahuan lewat surat terkait rencana penutupan Jl. M.T. Haryono hanya berlangsung hingga 6 Agustus 2018.

"Saya berharap Pemkot bisa memberikan subsidi kepada warga yang terdampak langsung proyek flyover Manahan. Kami kan perlu mencukupi kebutuhan hidup. Pelanggan kami pergi setelah Jl. M.T. Haryono ditutup. Kalau bisa ya warga yang terdampak penutupan Jl. M.T. Haryono diberi kompensasi Rp150.000/hari," ujar Yunus.

Karena Jl. M.T. Haryono ditutup, Yunus mengaku beberapa kali nekat pindah menata ban di dekat taman patung kuda Manahan. Dia tak peduli jika dianggap mengganggu arus lalu lintas atau kepentingan umum.

Yunus beralasan dirinya pindah juga karena Pemkot. Jika diberi kesempatan memilih, dia tentu ingin Jl. M.T. Haryono tak ditutup sehingga dirinya bisa tetap menggelar dagangan di rumah sendiri di dekat perlintasan sebidang Manahan.