Kisah Tragis Pria Solo Ditinggal Istrinya saat Sakit Parah

Herry Rahmad Setiawan, 44, terbaring lemas di rumah kontrakannya di RT 004/RW 036 Jebres, Solo, Senin (13/8 - 2018) pagi. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
13 Agustus 2018 14:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sudah dua tahun Herry Rahmad Setiawan tak bisa berjalan. Dia hanya mampu mengisi waktunya dengan berbaring di ranjang. Laki-laki kelahiran 29 September 1974 itu tak sanggup lagi melangkahkan kaki setelah divonis mengidap asam lambung akut.

Perutnya sering sekali melilit. Setiap kali makan, dia pasti muntah. Tidak adanya asupan gizi yang terserap membuat badan Rahmad semakin kurus. Hal itulah yang membuat dirinya jadi susah berjalan. Kedua kakinya bahkan tampak tinggal tulang belulang saja sekarang.

Tokopedia

Karena tak mampu lagi bekerja, Rahmad mengandalkan hidup dari hasil jerih payah istri dan kedua anaknya. Namun, dia kini hanya bisa menaruh harapan kepada kedua anak lelakinya.

Sejak Minggu (5/8/2018) lalu, istri Rahmad, Asih Widiastuti, tak pulang ke rumah. Dia belum tahu keberadaan istrinya hingga sekarang. Terakhir bertemu pada Minggu pagi, Asih pamit bekerja seperti biasanya ke Palur, Karanganyar.

Rahmad tak yakin istrinya pergi karena sengaja ingin meninggalkan dirinya dan kedua anaknya. Rahmad berharap Asih bisa kembali pulang.

Dia memohon juga kepada masyarakat atau siapa saja yang mengetahui keberadaan Asih agar bisa memberikan informasi kepada Rahmad lewat nomor telepon 089610381644 atau mendatangi rumah kontrakannya di Kampung Kentingan RT 004/RW 036 Kelurahan Jebres, Solo.

Rahmad begitu berharap istrinya bisa pulang karena kasihan juga dengan anak-anaknya yang masih butuh kasih sayang dan bimbingan sang ibu. Rahmad sudah meminta tolong kepada temannya untuk membantu memviralkan informasi di media sosial mengenai istrinya yang tak pulang.

"Enggak tahu ke mana istri saya pergi. Saya yakin dia pergi bukan karena keinginan sendiri tapi ada dorongan dari orang lain. Saya berharap Asih bisa pulang. Anak-anak masih butuh bimbingan ibu mereka. Saya juga masih butuh pendamping," kata Rahmad dengan mata berkaca-kaca saat ditemui Solopos.com di rumah kontrakannya, Senin (13/8/2018) pagi.

Setelah istrinya pergi, Rahmad otomatis hanya dirawat kedua anaknya. Dia lebih sering berada di rumah hanya dengan anak bungsunya, Muhamad Sheva R., 18, mengingat anak sulungnya Ivan Widi Kurniawan, 20, mesti lebih giat mencari pundi-pundi rupiah di luar sana.

Rahmad mengaku beruntung tetangganya cukup perhatian dengan nasib keluarganya. Dia bercerita beberapa tetangganya selama ini kerap memberi bantuan bahan pangan pokok hingga makanan matang untuk keluarganya. Rahmad berterima kasih kepada mereka yang telah bermurah hati kepadanya.

"Bisa dibilang saya sekarang hidup dari belas kasih tetangga. Bagaimana tidak? Kami selama ini memang sering mengandalkan bantuan dari tetangga untuk makan maupun untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya. Kami sangat beruntung tetangga di sini begitu peduli dengan kesulitan kami," tutur Rahmad.

Rahmad mengaku kini membutuhkan bantuan uang tunai untuk membayar kontrakan yang sudah menunggak, membeli gas melon, membeli perlengkapan mandi, dan mencukupi kebutuhan lain yang belum disumbang tetangga. Rahmad menyebut upah anaknya tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan itu.

Apalagi dia sekarang masih harus rutin membeli oksigen guna membantu pernapasan. Rahmad dalam sepekan setidaknya mesti menyediakan uang Rp80.000 untuk melakukan isi ulang oksigen tabung besar.

"Asam lambung saya sudah naik sampai paru-paru. Itu yang membuat saya jadi susah bernapas. Beruntung kondisi saya semakin membaik. Kalau dulu, saya mau bicara saja, satu kata itu satu hirupan napas. Jadi sangat susah buat saya berkomunikasi pada waktu itu," jelas Rahmad.

Rahmad menceritakan penyebab dirinya menderita asam lambung akut bermula dari kebiasaan makan tidak teratur. Dia kerap menunda makan saat lapar. Hal itu dia lakukan karena sibuk bekerja.

Sementara saat ada kesempatan makan, Rahmad sering memilih makan makanan pedas. Kadang dia bahkan hanya makan mi instan. Dia kini harus menanggung risiko dari kebiasaan makan tidak teratur itu.

Rahmad sekarang dilarang makan makanan yang bergetah, seperti dari bahan terong dan gori. Dia juga dilarang makan makanan yang bisa memicu gas pada lambung, seperti kol, kubis, jepat, asam-asaman, dan lain sebagainya.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, Rahmad dan kedua anaknya tinggal di rumah kontrakan yang tergolong tidak layak huni. Mereka tinggal di ruangan yang kumuh.

Ranjang tempat tidur Rahmad bahkan berada satu ruangan dengan kompor dan peralatan makan di rumah seluas 2 meter x 8 meter itu. Setiap tahunnya dia harus membayar uang kontrakan Rp1,7 juta.

Pengurus Baznas Solo, Ahmad Miftahul Falah, mengatakan selama setahun ini Baznas telah memberikan bantuan berupa uang tunai kepada Rahmad untuk keperluan membeli obat, oksigen, dan kebutuhan hidup.

"Alhamdulillah perkembangan terakhir sekarang oksigen sudah tidak begitu diperlukan. Mas Rahmad juga sekarang sudah bisa mulai duduk dan berlatih berjalan lagi. Tapi memang belum bisa berjalan lama karena memang kondisi fisiknya yang masih lemah dan belum memungkinkan untuk beraktivitas banyak," tutur Miftahul kepada Solopos.com.