Polres Sragen: Seleksi Perdes 21 Desa Bermasalah

Para calon perangkat desa dari 17 desa berdemo di Alun-alun Sragen, Senin (13/8 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
13 Agustus 2018 19:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Hasil investigasi Polres Sragen menemukan seleksi perangkat desa (perdes) di 21 desa bermasalah. Sisanya di 169 desa lain yang juga menyelenggarakan seleksi tidak atau belum ditemukan indikasi masalah.

Tiga tim investigasi yang dibentuk Polres Sragen sepekan lalu mengumpulkan bahan keterangan dan data terkait dugaan transaksional uang dalam proses pengisian perdes.

Data 21 desa yang terindikasi bermasalah tersebut diungkapkan Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman saat ditemui wartawan di sela-sela pengamanan aksi unjuk rasa ratusan calon perdes di halaman Kantor Sekretariat Daerah (Setda) Sragen, Senin (13/8/2018).

“Semua aduan yang masuk kami tindaklanjuti. Tiga tim investigasi yang kami bentuk sepekan lalu bergerak ke lapangan dan kami dapatkan ada 21 desa bermasalah. Data itu kami dapatkan dari hasil kerja tim investigasi itu,” ujarnya.

Data dan bukti dari siapa pun diterima Porles, termasuk data yang dijanjikan Koordinator Calon Perdes Kabupaten Sragen Aziz Kristanto juga masih ditunggu Kapolres.

Dia mengakui tim investigasi proaktif mengakses data yang dimiliki Aziz. “Pak Aziz menjanjikan Senin ini untuk menyerahkan data indikasi kecurangan dan transaksional uang,” ujarnya.

Dia menjelaskan semua isu yang beredar di masyarakat ditindaklanjuti dengan pola jemput bola ke lapangan. Dari hasil kerja tim tersebut, Kapolres mengatakan ada beberapa orang yang dimintai klarifikasi dengan memanggil ke Polres Sragen untuk memperjelas informasi yang berkembang.

“Ya, salah satu yang kami mintai keterangan adalah kades di Taraman. Selain kades ada saksi lain yang sudah dimintai keterangan tetapi tidak harus dipanggil ke Polres,” ujarnya.

Kapolres menerangkan pola observasi, surveilans, dan interogasi itu dilakukan tim di lapangan. Dia mengatakan kalau semua saksi dipanggil ke Polres semua tentu memakan waktu lama dan sebenarnya itu persoalan teknis.

“Untuk kontennya masih dalam penyelidikan. Kalau saya sampaikan sekarang khawatir kontraproduktif dengan hasil penyelidikan,” imbuhnya.

Dia menyampaikan ada beberapa orang yang hanya coba-coba melakukan transaksi jabatan perdes. Setelah dilakukan pendekatan oleh tim, ujar dia, uang itu dikembalikan. Dia meminta calon perdes memilah permasalahan yang masuk ranah administrasi dan pidana.

Seorang calon perdes asal Newung, Sukodono, Adi Darmawan, sempat melapor ke Mapolres Sragen terkait indikasi data yang berbeda pada salinan nilai dari salah satu perguruan tinggi. Dia curiga dengan tanda tangan pada salinan nilai yang menunjukkan ada dan tidaknya stempel.

Dia berharap dengan laporan itu bisa ditindaklanjuti kepolisian. “Saya lapor tetapi berkas yang saya sampaikan justru dikembalikan untuk dilengkapi dulu. Saya diminta mencari data yang asli. Mana mungkin bisa karena meminta pun ke pihak terkait tidak akan diberi,” ujarnya.

Tokopedia