Kisah Unik Pemindahan Masjid Golo di Bayat Klaten

Masjid Golo di Dukuh Paseban, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten, Sabtu (11/8 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
13 Agustus 2018 11:40 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Di dekat makam Sunan Pandanaran di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten, ada masjid kuno bernama Masjid Golo. Masjid itu hingga kini masih aktif dipakai untuk beribadah umat Islam.

Masjid Golo didirikan Sunan Pandanaran atau Pangeran Mangkubumi begitu sampai di daerah Tembayat agar para jemaahnya bisa lebih mudah menjalankan salat lima waktu. Maka dibangun lah Masjid Golo di puncak bukit Jabalkat, Desa Paseban, Bayat, Klaten.

Takmir Masjid Golo adalah murid-murid Sunan Pandanaran yang diangkatnya selama perjalanan dari Semarang ke Bayat, Klaten. Salah satu muazin atau petugas azan, Syeikh Domba, yang wajahnya sudah kembali menjadi wujud manusia.

Syeikh Domba awalnya seorang begal yang merampok harta istri Sunan Pandanaran, Nyi Ageng Kaliwungu, di daerah Salatiga. Syeikh Domba bertobat lalu diangkat menjadi murid mantan Bupati Semarang itu.

Setiap kali azan, konon suara Syeikh Domba terdengar hingga Demak. Seorang Sunan di Demak komplain soal azan yang dinilainya sangat keras. Sunan itu meminta Sunan Pandanaran agar memindahkan masjid agak ke bawah bukit supaya tidak terlalu keras azannya.

“Oleh Sunan Pandanaran, masjid lalu dipindah dari puncak Jabalkat ke bawah dekat goa Maria. Azan pun tak lagi terdengar sampai Demak,” kata Ketua Sanggar Lima Benua, Temanku Lima Benua, kepada wartawan di sanggarnya, Dukuh Geritan, Desa Belangwetan, Klaten Utara, Jumat (10/8/2018).

Perempuan yang akrab disapa Liben itu menambahkan proses pemindahan masjid pun terbilang unik. Ada beberapa versi cara Sunan Pandanaran memindahkan masjid salah satunya menarik masjid dengan benang.

Namun, ada cerita lain yang menyebutkan masjid dipindahkan hanya menggunakan ujung jarinya. “Sekarang masjid yang di atas kerap dikunjungi peziarah untuk melihat petilasan Sunan,” kata Liben.