Begini Jasa Besar Kakak Pembina untuk Pramuka Klaten

Ilustrasi anak berkebutuhan khusus mengikuti Pertemuan Pramuka Luar Biasa. (Solopos/Sunaryo Haryo Bayu)
13 Agustus 2018 20:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Pramuka sudah menjadi bagian hidup Sarwasri Mulyandari. Di usianya yang menginjak 52 tahun, wanita yang akrab disapa Kak Ndari ini masih aktif dalam berbagai kegiatan kepanduan di Klaten.

Seperti akhir-akhir ini, ia disibukkan dengan sejumlah persiapan kegiatan mulai dari peringatan hari pramuka, marathon cabang, serta kemah. Ia juga menjadi salah satu pembina yang ikut mempersiapkan 30 anak SMAN 1 Prambanan mengikuti Saka Widya Budaya Bakti tingkat nasional.

Jawa Tengah itu yang maju ada tiga yakni Semarang, Klaten, dan Karanganyar. Nanti ada semacam akreditasi, ada pengecekan dulu, siapa yang bakal maju ke nasional. Kalau latihannya sudah dimulai saban Jumat,” kata Kak Ndari saat ditemui Solopos.com di Sanggar Pramuka Kwarcab Klaten, Kelurahan Klaten, Kecamatan Klaten Tengah, Senin (13/8/2018).

Kak Ndari aktif mengikuti pendidikan kepanduan sejak duduk di bangku SD sekitar 1974. Saat itu, ia termotivasi menjadi pimpinan barung hingga sulung. Berbagai kemah ia ikuti. Ia kian mencintai pramuka ketika duduk di bangku SMP. Kak Ndari menjadi salah satu siswa putri SMPN 1 Klaten yang mengikuti Lomba Tingkat Pramuka Penggalang (LT4) pada 1980 sebagai rangkaian peringatan puncak hari pramuka yang dihadiri Presiden Soeharto.

Kegiatan LT4 itu yang paling berkesan karena hanya sekali itu dilaksanakan dengan sistem survival selama sepekan. Kegiatannya di lereng Gunung Slamet dengan keluar masuk hutan dan menginap di rumah warga,” katanya.

Kecintaannya pada pramuka berlanjut hingga ia ikut mengurusi dewan kerja cabang. “Pembina pramuka itu identik dikerjakan guru. Makanya, ke mana-mana saya sering ditanya mengajar di mana. Padahal saya murni berkegiatan di pramuka karena sama almarhum suami saya tidak boleh bekerja,” kata ibu dua anak itu.

Wanita yang tinggal di Desa/Kecamatan Ngawen, Klaten itu hingga kini dipercaya melatih dan mendampingi pramuka yang mengikuti kegiatan di tingkat nasional. Salah satunya ketika ia dipercaya mendampingi 10 anak SMP asal Klaten mewakili Jawa Tengah mengikuti kemah budaya tingkat nasional di Bintan, Kepulauan Riau sekitar 2013.

Seusai kemah tersebut, ia bersama rombongannya sempat terlantar hingga diinapkan di salah satu pondok pesantren. Kak Ndari menjadi pendamping pramuka yang paling vokal memprotes panitia hingga rombongannya bisa dipulangkan.

Memang panitia saat itu tidak profesional. Banyak yang ditelantarkan. Kami ditelantarkan di Batam hingga dititipkan di pesantren selama sehari semalam hingga akhirnya dipulangkan. Saat itu tidur ya seadanya memanfaatkan salah satu ruang kelas karena kebetulan sedang libur,” tutur Kak Ndari.

Sebagai pembina, Kak Ndari kerap bergaul dengan pramuka yang masih ABG. Ia pun harus menyesuaikan mulai dari gaya berbicara, berdandan, hingga mengikuti perkembangan teknologi komunikasi. Bagi Kak Ndari, hal itu tak menyulitkan. Terkadang, ia menjadi teman curhat para pramuka binaanya mulai dari masalah keluarga, pendidikan, hingga pacaran. Di kalangan pramuka, wanita itu dikenal sebagai pembina yang cerewet dan galak. “Saya juga enggak tahu kenapa baterai saya tidak pernah habis,” katanya.

Soal sampai kapan ia menjadi pramuka, Kak Ndari mengatakan tak ada kata pensiun berkegiatan pramuka. Baginya, pramuka sudah membentuk sikap dan mentalnya. ”Prinsip saya itu disiplin dan tanggung jawab. Itu yang saya tekankan ke anak saya termasuk anak-anak pramuka,” urai dia.

Tokopedia