Dishub Solo Tak Khawatir Soal Proyek Flyover Purwosari

Kendaraan melintas di perlintasan sebidang Purwosari, Laweyan, Solo, Rabu (4/7 - 2018) pagi. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
14 Agustus 2018 14:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Dinas Perhubungan (Dishub) Solo tak terlalu khawatir bakal terjadi kemacetan parah saat flyover atau jembatan layang Purwosari dibangun akhir 2018 nanti. Dishub bahkan optimistis pembangunan jalan layang itu tak akan terlalu berdampak pada kemacetan lalu lintas di jalanan Kota Solo.

Kepala Dishub Solo, Hari Prihatno, mengatakan pembangunan flyover Purwosari akan dikerjakan setelah flyover Manahan kelar dibangun. Dengan demikian, arus lalu lintas yang selama ini lewat perlintasan sebidang Purwosari bisa dilarikan terlebih dahulu masuk flyover Manahan selama masa pengerjaan proyek pembangunan flyover Purwosari.

Dia menganggap pengalihan arus lalu lintas menuju flyover Manahan menjadi solusi paling memungkinkan ketika perlintasan sebidang Purwosari ditutup untuk proyek.

“Bukan hanya usul Dishub, pembangunan flyover Purwosari dikerjakan setelah flyover Manahan siap dilewati kendaraan itu sudah menjadi program Pak Wali Kota. Tidak mungkin lah dua flyover itu dikerjakan bareng karena bisa bikin macet di mana-mana,” kata Hari saat berbincang dengan Solopos.com di ruang kerjanya, Selasa (14/8/2018).

Hari mengakui Dishub belum membuat skema manajemen dan rekayasa lalu lintas (MRLL) pembangunan flyover Purwosari. Dia beralasan Dishub butuh melihat dulu hasil analisis dampak lalu lintas (andalalin) pembangunan flyover Purwosari sebelum membuat skema MRLL.

Dishub hingga kini belum menerima dokumen hasil andalalin dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Solo. Berdasarkan informasi yang dia terima, Hari menyebut Dinas PUPR baru mengerjakan andalalin flyover Purwsosari setelah APBD Perubahan 2018 digedok.

“Kami menyusun skema MRLL kan berdasarkan dokumen andalalin. Karena andalalin belum ada kami juga belum membuat skema MRLL itu. Sudah kami minta Dinas PUPR untuk menganggarkan penyusunan andalalin di [APBD] perubahan. Flyover Purwosari kan baru dikerjakan nanti mulai November atau Desember,” jelas Hari.

Namun, Hari menambahkan secara garis besar rekayasa lalu lintas yang bakal diterapkan saat pembangunan flyover Purwosari dimulai jelas bakal mengoptimalkan keberadaan flyover Manahan. Sebagai contoh, kendaraan di Jl. Slamet Riyadi dari arah barat (Pasar Jongke) bakal diarahkan masuk Jl. Prof. Soeharso atau Jl. A. Yani untuk menuju ke Jl. Adisucipto dan masuk flyover Manahan saat perlintasan sebidang Purwosari tak bisa dilewati lagi.

Begitu juga kendaraan dari arah Pajang atau Laweyan yang ingin menuju ke arah Pasar Jongke bakal diarahkan juga masuk flyover Manahan lewat perempatan Gendengan.

“Detail rekayasa lalu lintasnya biar kami susun dulu. Yang jelas, kalau flyover Manahan sudah jadi, sarana infrastruktur tersebut lumayan bisa mengantisipasi dampak kemacetan akibat pembangunan flyover Purwosari. Hilangnya perlintasan sebidang Manahan lumayan membantu arus lalu lintas di jalanan kota menjadi lebih lancar,” tutur Hari.

Site Manager PT Yasa Patria Perkasa, Ari Wahyudi, mengklaim progres pembangunan flyover Manahan kini sudah mencapai 50% lebih. Selain melanjutkan proses pembangunan badan jalan, PT Yasa Patria Perkasa selaku kontraktor proyek Pembangunan Flyover Manahan kini tengah memasang corrugated atau konstruksi terowongan di Jl. Hasanuddin dan Jl. M.T. Haryono.

Maka dari itu, PT Yasa Patria Perkasa terpaksa meminta Dishub menutup Jl. Hasanuddin dan Jl. M.T. Haryono untuk memperlancar pekerjaan itu.



Tokopedia