Tarif Sedot Tinja PDAM Solo Dianggap Kemahalan

Proses penyedotan lumpur tinja oleh rekanan Perumda Air Minum Toya Wening di rumah salah satu warga Mojosongoo, Jebres, Solo, Selasa (24/7 - 2018) siang. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
14 Agustus 2018 21:15 WIB Ivan Andimuhtarom Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Perubahan tarif bulanan program penyedotan limbah sanitasi oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Solo dikeluhkan warga. Keluhan tersebut banyak mengemuka saat para anggota DPRD Kota Solo mengadakan reses masa sidang kedua pada Jumat-Minggu (8-12/8/2018).

Tarif sedot tinja kini menjadi Rp17.500 per bulan dari tarif sebelumnya hanya Rp5.000 per bulan. Di satu sisi, masyarakat menilai layanan yang diberikan PDAM Solo belum maksimal.

Anggota Komisi I DPRD Solo, Abdullah A.A., mengatakan saat Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mengajak warga agar lebih sehat dengan program sedot tinja terjadwal, warga menerima dengan baik. Saat itu, biaya bulanan yang harus dibayar pelanggan hanya Rp5.000.

“Masyarakat merasa berat kalau tarifnya tiba-tiba naik menjadi Rp17.500. Terlebih itu tanpa sosialisasi,” ujarnya saat ditemui Solopos.com di kantornya, Selasa (14/8/2018).

Warga juga mengeluhkan layanan sedot tinja tak rutin menyedot. Kadang, saat septic tank sudah penuh, petugas tak kunjung datang.

“Beda cerita kalau pelayanan PDAM sudah maksimal, masalah tarif tentu bisa dibicarakan. Saya meminta ada koreksi dari PDAM. PDAM perlu melaksanakan kewajibannya selaku
penanggung jawab kebijakan tersebut dan jangan sampai masyarakat dirugikan,” tutur politikus Partai Hanura itu.

Selain itu, masih ada warga yang memerlukan layanan sedot tinja oleh PDAM. Namun, hingga kini pengajuan warga belum ditindaklanjuti.

“Ada pula warga yang mengusulkan pembuatan septic tank komunal di RW 008, Kelurahan Jayengan. Ada sekitar 50 keluarga dari total 60 keluarga yang belum mendapat layanan sedot tinja,” katanya.

Warga RT 002/RW 004, Jayengan, Sumardi, kepada Solopos.com menceritakan perubahan tarif terjadi sejak tiga bulan lalu. Perbedaannya, tarif sedot tinja kini menjadi satu paket dengan tarif air bersih.

“Perubahan tarif sanitasi itu dasarnya apa? Kok anggota DPRD [Abdullah A.A.], sampai bu lurah belum tahu. Berarti itu kan kebijakan sepihak,” kata dia melalui sambungan telepon, Selasa.

Anggota DPRD Solo lainnya, Ginda Ferachtriawan, juga mendapat banyak pertanyaan dari masyarakat seputar biaya bulanan sanitasi yang naik jadi Rp17.500 per bulan tersebut. Warga juga mengeluhkan pelayanan PDAM yang kurang maksimal.

“Keluhan itu disampaikan warga saat reses di Tipes, Serengan. Memang belum seluruh wilayah terlayani program tersebut. Kami minta PDAM Solo memberi penjelasan dan sosialisasi yang lebih dalam pada masyarakat, khususnya di Tipes,” kata politikus PDIP tersebut.

Keluhan yang sama disampaikan kepada politikus PKS, Sugeng Riyanto, yang menghimpun aspirasi saat reses di daerah Jl. Dempo, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres.

Warga setempat mengeluhkan naiknya tarif pengelolaan sanitasi masyarakat. “Selain tarifnya naik, mesin penyedotnya juga sudah lama mati,” kata dia.