Petani Boyolali Turun Gunung Jemur Tembakau

Petani tembakau asal Kecamatan Cepogo dan Selo menjemur tembakau di lapangan Desa Jurug, Kecamatan Mojosongo, Senin (13/8 - 2018). Mereka terpaksa menjemur tembakau hingga ke luar daerah mereka karena cuaca di lereng gunung mendung dalam beberapa hari terakhir. (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
14 Agustus 2018 21:27 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI — Petani tembakau di Kecamatan Cepogo dan Selo berbondong-bondong “turun gunung” untuk menjemur tembakau hasil panen mereka lantara cuaca di lereng Merapi dan Merbabu mendung belakangan ini.

Petani tersebut mencari lahan lapang di wilayah Boyolali Kota dan sekitarnya yang cukup terpapar sinar matahari. Seperti di lapangan Desa Jurug, Kecamatan Mojosongo puluhan petani menggelar widik-widik (anyaman bambu untuk menjemur tembakau) di lahan tersebut. Bahkan, saking banyaknya tembakau yang dijemur, hampir seluruh permukaan lapangan tertutup widik-widik tembakau.

Para petani mengatakan, kegiatan menjemur tembakau hingga ke luar daerah dilakukan agar komoditas itu bisa kering dalam waktu singkat. “Beberapa hari terakhir cuaca di lereng gungung mendung sehingga kami tidak bisa menjemur tembakau di sana. Kalau pun bisa, paling-paling kalau pagi hanya satu atau dua jam setelah itu mendung. Daripada capek gelar-angkat jemuran, mendingan langsung aja turun [ke Boyolali] dan menjemur di sini sehari selesai. Teman saya ada yang menjemur di Teras juga,” ujar Budi Susanto, 25, petani tembakau asal Desa Gebyog, Kecamatan Selo saat ditemui di lapangan Desa Jurug, Senin (13/8/2018).

Untuk menjemur di luar daerah, dia mengaku butuh biaya tambahan untuk biaya BBM, sumbangan sukarela bagi desa yang ketempatan, dan makan siang . Namun hal tersebut baginya tidak menjadi masalah. “Nggak apa-apa. Yang penting tembakau kering,’ imbuhnya.

Petani lain asal Desa Genting, Kecamatan Cepogo, Dalimin, 40, mengatakan saat cuaca yang cukup panas kegiatan penjemuran ini dilakukan hanya beberapa jam. “Kalau dijemur sejak jam 08.00 WIB, paling-paling jam 14.00 WIB sudah kering dan tembakau sudah bisa diangkat,” kata petani yang mengusung 75 widik itu. Setelah dibawa pulang, tembakau yang sudah kering kemudian dijemur didiamkan selama 2-3 hari sebelum dimasukkan ke keranjang dan siap jual.

Di sisi lain, musim panen tembakau kali ini petani di Cepogo dan Selo baru memetik tembakau daun pada batang bagian bawah. Sedangkan daun pada batang tengah atau daun berkualitas terbaik baru dilakukan sekitar September.

Warto, salah satu petani asal Desa Senden, Kecamatan Selo mengatakan, harga tembaku pada musim panen kali ini cukup bagus. Untuk daun bawah harganya sekitar Rp30.000-35.000/kg kering. Sedangkan daun tengah diharapkan mampu mencapai Rp70.000-Rp80.000/kg kering. “Sekarang harganya lumayan bagus. Daun bawah bisa Rp30.000-35.000/kg kering, kalau tengah nanti ya semoga bisa Rp70.000-Rp80.000/kg kering,” kata dia.

Tahun sebelumnya, petani tembakau di lereng Merapi dan Merbabu juga melakukan kegiatan serupa. Saat itu sebagian petani membawa tembakau hasil panen mereka ke proyek jalan tol yang belum jadi. Namun tahun ini hal itu tidak dilakukan karena sebagian tol sudah jadi dan akses ke jalan bebas hambatan itu sudah ditutup.

Tokopedia