Penyewaan Lapangan Sepak Bola Jadi Andalan Desa Klumprit Mojolaban Sukoharjo

Ratusan orang menonton pertandingan sepak bola di Lapangan Klumprit, Mojolaban, Sukoharjo. Lapangan ini memiliki kualitas rumput seperti di sejumlah stadion di Tanah Air. (Solopos - Bony Eko Wicaksono)
15 Agustus 2018 22:32 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO—Wilayah Desa Klumprit, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, tak hanya menyimpan kekayaan potensi pertanian melainkan bidang olahraga yang mampu menggerakkan perekonomian warga setempat. Salah satunya adalah lapangan yang kerap digunakan sebagai lokasi kompetisi sepak bola. Lapangan di Desa Klumprit memiliki rumput yang terawat layaknya stadion-stadion berkelas di Tanah air.

Perawatan rumput lapangan dilakukan oleh petugas khusus secara berkala. Mereka memotong rumput dengan mesin sekali dalam sepekan.

“Selain rumput yang terawat, kondisi tanah cukup rata sehingga sangat layak sebagai venue pertandingan sepakbola. Lapangan ini juga digunakan klub sepak bola desa saat berlatih setiap sore hari,” kata seorang tokoh masyarakat Desa Klumprit, Kecamatan Mojolaban, Eko Sapto Purnomo, saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (10/8/2018).

Kondisi lapangan yang memiliki rumput yang terawat jarang bisa dijumpai di wilayah Sukoharjo. Biasanya, rumput hanya tumbuh di pinggir lapangan sehingga tak layak digunakan untuk bermain sepak bola.

Tal ayal, turnamen sepakbola yang diikuti belasan klub yang berasal dari wilayah Soloraya kerap diselenggarakan selama berhari-hari di lapangan itu. “Anggota karang taruna diberdayakan untuk mengelola parkir kendaraan bermotor. Ada pemasukan dana yang dikelola para pemuda-pemudi setempat,” ujar dia.

Saat turnamen sepak bola, tak sedikit warga setempat yang membuka lapak usaha makanan dan minuman di pinggir lapangan. Mereka menjajakan camilan dan snack serta berbagai jenis minuman untuk para penonton.

Penonton selalu membeludak saat pertandingan semifinal maupun final. “Warga mendapat penghasilan tambahan dari berjualan makanan dan minuman. Hal ini berimbas pada menggeliatnya perekonomian desa,” papar dia.

Tak menutup kemungkinan, lapangan desa itu bakal disewakan sebagai lokasi turnamen sepak bola tingkat kecamatan bahkan kabupaten. Terlebih, sepak bola masih menjadi olahraga terfavorit yang bisa menyedot masyarakat untuk menonton langsung di lokasi pertandingan. Tentu saja, pendapatan sewa lapangan bakal menyumbang pendapatan asli desa.

Sementara itu, seorang warga setempat, Andri Setiawan, mengungkapkan lapangan sepak bola itu berfungsi ganda yakni public space dan sarana olahraga. Lapangan sepak bola itu bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah dengan cara disewakan. Namun, pengelolaan keuangan harus transparan dan akuntabel untuk kemajuan desa.