Terima 16 Aduan, Inspektorat Sragen Panggil Panitia Seleksi Perdes

Tim Inspektorat Sragen meminta klarifikasi panitia pengisian perdes Kedawung, Mondokan, Sragen, Rabu (15/8 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
15 Agustus 2018 20:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Aktivitas di depan kantor Inspektorat Sragen yang menjadi Posko Pegaduan Pengisian Perangkat Desa (perdes) 2018 sekilas terlihat lengang, Rabu (15/8/2018).

Banyak sepeda motor dan mobil parkir di halaman kantor itu. Aktivitas posko aduan itu ternyata ramai di belakang bangunan utama.

Para auditor dan penyidik Inspektorat sibuk mengklarifikasi sejumlah perangkat desa terkait aduan yang masuk ke Inspektorat sejak Selasa (14/8/2018).

“Ada 16 aduan yang masuk hingga Rabu pukul 13.00 WIB. Satu desa aduannya bisa lebih dari satu macam,” ujar Inspektur Sragen, Wahyu Widayat, saat berbincang dengan wartawan.

Belasan aduan itu berasal dari delapan desa di tujuh kecamatan, yakni Masaran, Tangen, Tanon, Sambirejo, Ngrampal, Karangmalang, dan Mondokan. Aduan yang masuk tersebut belum ada yang mengarah pada unsur tindak pidana tetapi masih berupa aduan dugaan pelanggaran administrasi, seperti salah dalam perumusan nilai, dan seterusnya.

Kabag Pemerintahan Desa (Pemdes) Sekretariat Daerah (Setda) Sragen Suhariyanto dibantu Kasubag Administrasi dan Aparatur Pemerintahan Desa Bagian Pemdes Setda Sragen, R. Rudi Hartanto, pindah kantor di Inspektorat. Suhariyanto ikut memilah aduan-aduan yang masuk bersama inspektur pembantu.

“Semua aduan ditindaklanjuti hari ini. Kami hanya memfasilitasi karena yang memberikan penjelasan kepada calon perdes adalah panitia desa yang bersangkutan. Dari aduan yang masuk, kami mengklarifikasi ke panitia desa terkait. Klarifikasi baru dilakukan hari ini [kemarin]. Kami bergerak maraton. Bisa jadi sampai sore atau malam nanti,” ujar Wahyu.

Kades Saradan Anis Tri Waluyo terlihat datang ke Inspektorat. Namun saat ditanya ihwal persoalan pengisian perdes di desanya, ia terkesan menghindar.

Setelah menerima telepon, Anis pun meninggalkan wartawan dan Inspektorat. Selain itu, para panitia pengisian perdes Kedawung Mondokan, Sragen, datang.

Empat orang langsung masuk ke ruang klarifikasi. Dua orang petugas Inspektorat menginterogasi panitia desa itu. Suhariyanto dan Rudi masuk belakangan. Klarifikasi dilakukan secara tertutup.

Camat Mondokan Bambang Eko Budi Santosa datang bersama Sekretaris Kecamatan Mondokan Indarto. Kasus perdes Kedawung berkaitan dengan kesalahan input nilai untuk sertifikat pada formasi bayan.

Sertifikat pendidikan nonformal ada empat lembar dimasukkan semua. Setelah diverifikasi di kecamatan, ada dua sertifikat yang serumpun sehingga nilainya bukan empat tetapi tiga.

"Perubahan nilai itu berdampak pada perubahan ranking. S yang semula ranking I berupa posisi menjadi ranking II. Sementara posisi E yang semula ranking II menjadi ranking I,” ujar Indarto.

Tokopedia