Warga Boyolali Ubah Sampah Plastik Jadi BBM Cair

Ketua Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) KSM Asri Berkah Mandiri Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Boyolali Rajiman mendemonstrasikan BBM cair hasil olahan sampah plastik di TPST setempat, Selasa (14/8 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
15 Agustus 2018 22:10 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI — Warga Desa Tawangsari Kecamatan Teras, Boyolali berhasil membuat bahan bakar minyak (BBM) alternatif berbentuk cair dengan bahan baku sampah plastik. Dari 10 kg sampah plastik yang disuling dengan alat sederhana itu menghasilkan 3 liter BBM cair. Pengolahan sampah plastik menjadi BBM tersebut merupakan bagian dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) KSM Asri Berkah Mandiri yang gedungnya menempati tanah kas desa setempat.

Ketua TPST setempat Rajiman mengatakan pembuatan BBM tersebut baru sebatas uji coba dan detil hasilnya sedang diteliti PT Pertamina. “Ini masih uji coba, di mana kami mencoba membuat BBM dari sampah plastik dan hasilnya sedang diteliti di laboratorium Pertamina di Jakarta untuk menegtahui kandungan yang ada,” ujarnya saat ditemui Selasa, (14/8/2018) di TPST setempat.

Rajiman mengatakan dari wujudnya BBM cair yang dihasilkan belum jernih. Namun demikian, BBM tersebut lebih mudah terbakar dibandingkan dengan solar. “BBM dari sampah plastik ini tidak sejernih bensin, tetapi tingkat mudah terbakarnya lebih tinggi dibandingkan dengan solar,” kata dia. Saat Rajiman mendemonstrasikan cairan tersebut pada permukaan lantai rabat, BBM itu langsung menyala ketika dinyalakan dengan pemantik kompor.

Sementara itu, cairan itu juga pernah diujicobakan sebagai BBM kendaraan roda tiga pengangkut sampah milik TPTS dan mesin pencacah sampah. Hasilnya, kedua mesin tersebut bisa menyala dengan normal. “Waktu kami ujicobakan sebagai BBM motor roda tiga, mesin menyala normal,” imbuh dia.

Menurutnya, pemanfaatan BBM itu ke depan juga baru sebatas pengganti BBM kendaraan operasional pengangkut sampah. “Kami masih menunggu hasil penelitian dari Pertamina. Jika hasilnya bagus, sementara untuk kendaraan pengangkut sampah dulu,” kata dia. Sambil menunggu hasil penelitian, pihaknya terus melakukan penyempurnaan alat yang dirancang oleh para mahasiswa di desa itu, tertutama tabung pemanas yang masih rentan jebol.

Dijelaskannya, alat pembuat BBM itu terdiri atas tiga komponen utama, yakni tabung pemanas sampah plastik yang terbuat dari drum bekas, pipa pendingin, dan tabung hasil penyulingan yang langsung terhubung dengan keran. Sementara itu, Kepala Desa Tawangsari Yayuk Tutiek Supriyanti mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi inovasi warganya yang sudah membuat BBM alternatif cair tersebut.

“Kami sangat mengapresiasi inovasi warga. Ternyata masyarakat yang sederhana bisa berinovasi mengolah sampah plastik jadi BBM. Meski BBM belum bisa diidentifikasi, setidaknya langkah ini sudah mengurangi sampah yang ada di sungai di sawah. Kami berharap inovasi ini bisa menular dan menginspirasi generasi muda dan anak-anak tentang pentingnya kebersihan lingkungan dan pemanfaatan sampahnya,” kata dia.