Bupati Wonogiri Sindir Ibu-Ibu soal Konsumsi Ikan

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo (kiri), berbincang dengan warga saat gowes di Slogohimo, Senin (30/7 - 2018) lalu. (Istimewa)
15 Agustus 2018 17:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Bupati Wonogiri Joko Sutopo menyindir ibu-ibu yang lebih mengutamakan membeli pulsa ketimbang membeli ikan untuk konsumsi keluarga.

Kondisi itu membuat tingkat konsumsi ikan di daerah-daerah Jawa Tengah, termasuk Wonogiri rendah, berbanding terbalik dengan produksi ikan yang melimpah.

Hal itu disampaikan Bupati yang akrab disapa Jekek itu saat kegiatan Kampanye Gemar Ikan bagi Masyarakat Jawa Tengah di pendapa rumah dinasnya, kompleks Sekretariat Daerah (Setda), Rabu (15/8/2018).

Pemerintah menggaungkan kampanye tersebut untuk mempersiapkan generasi sehat dan cerdas. Berdasar kajian organisasi kesehatan dunia PBB atau World Health Organization (WHO), ikan menjadi sumber protein hewani terbaik karena mengandung omega 3. Asam lemak esensial itu dapat membantu meningkatkan kecerdasan otak.

Bupati menyesalkan rendahnya angka konsumsi ikan (AKI) di Jateng dan Wonogiri. AKI merupakan indikator tingkat konsumsi ikan masyarakat wilayah dan dalam kurun waktu tertentu.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, AKI Jateng pada 2017 tercatat 29,91 kg kapita/tahun. Artinya, setiap orang di Jateng rata-rata mengonsumsi ikan hanya 29,91 kg selama setahun.

Angka itu terendah kedua dalam skala nasional. AKI nasional 45 kg kapita/tahun. Sementara standar minimal asupan protein hewani dari ikan setidaknya 100 gram kapita/hari atau 36 kg kapita/tahun. Konsumsi lebih dari itu lebih baik.

AKI Wonogiri lebih rendah lagi. Pada 2017 lalu, AKI Wonogiri tercatat 21,5 kg kapita/tahun. AKI itu capaian terbaik selama tiga tahun terakhir.

AKI 2016 tercatat 19,87 kg kapita/tahun, sedangkan setahun sebelumnya 19,21 kg kapita/tahun. Kondisi itu berbanding terbalik dengan produksi ikan daerah. Contohnya produksi ikan tangkapan di Waduk Gajah Mungkur (WGM).

Tahun lalu produksi ikan WGM mencapai 3.081 ton. Capaian itu belum termasuk budidaya dan tangkapan ikan di perairan lain, seperti sungai, cekdam, waduk, dan embung.

Menurut Bupati, kampanye memasyarakatkan makan ikan tak efektif apabila hanya dilaksanakan secara seremonial tanpa ada aksi nyata. Aksi nyata yang dimaksud seperti lomba membuat menu ikan atau sosialisasi di ruangan.

Aktivitas semacam itu perlu untuk mengedukasi, tetapi jangan sampai menjadi cara satu-satunya. Bupati menilai persoalan mendasar yang menyebabkan angka konsumsi ikan (AKI) rendah adalah gaya hidup dan masalah ekonomi.

Tak bisa dimungkiri ibu rumah tangga sekarang ini lebih memilih membeli pulsa telepon atau paket data Internet daripada membeli ikan untuk konsumsi keluarga.

“Bukan begitu Ibu-Ibu, Budhe?” ucap Bupati dijawab betul oleh ratusan ibu-ibu peserta kegiatan secara serentak.

Padahal, ibu rumah tangga merupakan manajer yang menentukan menu makanan di rumah. Kebiasaan itu harus dapat diubah dengan aksi nyata, seperti memelihara ikan di kolam pekarangan rumah khusus untuk konsumsi.

Bupati berpandangan langkah itu bisa menjadi solusi masalah rendahnya konsumsi ikan jika program bisa dilaksanakan secara simultan dan berkelanjutan.

“Kalau Ibu-Ibu siap mengelola kolam ikan, saya pastikan Pemkab akan menyediakan dana hibah untuk membuat kolam, tahun depan. Bibit ikan juga akan kami beri,” kata Bupati yang akrab disapa Jekek itu.

Kepala Balai Budidaya Ikan Air Tawar Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng, Bambang Pramono, mengatakan negara yang maju adalah negara yang penduduknya gemar makan ikan, Jepang contohnya. AKI Jepang tercatat 125 kg kapita/tahun.

AKI Tiongkok juga tinggi, yakni 90 kg kapita/tahun. Bahkan, ikan menjadi makanan harian bagi masyarakat Tiongkok. Tak heran, negara-negara tersebut bisa mencetak generasi cerdas.

Masyarakat negara itu antusias membeli ikan karena murah, yakni nila Rp8.000/kg. “Di Indonesia harga ikan yang mahal menjadi kendala. Harga nila mencapai Rp25.000/kg atau lebih,” kata Bambang.