Rupiah Terpuruk Pukul Industri Properti & Tekstil di Sukoharjo

Ilustrasi menghitung uang rupiah. (Bisnis/Dwi Prasetya)
16 Agustus 2018 16:15 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS memukul dunia usaha terutama sektor properti dan tekstil di Sukoharjo. Selama ini, industri properti dan tekstil mengandalkan bahan baku impor yang otomatis harganya bakal melambung tinggi.

Kurs rupiah terhadap Dolar AS terpuruk hingga level Rp14.600 per dolar AS. Kondisi ini bakal memengaruhi proses produksi industri properti dan tekstil yang sangat bergantung pada bahan baku impor. Harga perlengkapan pembangunan properti yang diimpor bakal naik.

“Industri yang paling terdampak saat melemahnya nilai tukar rupiah adalah sektor properti dan tekstil,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sukoharjo, Yunus Arianto, saat berbincang dengan solopos.com, Rabu (15/8/2018).

Melemahnya nilai tukar rupiah berdampak pada daya beli masyarakat yang turun untuk membeli properti. Harga properti bakal semakin melambung terutama kelas atas atau high end yang sebagian besar bahan bakunya impor.

Kondisi ini membuat sebagian masyarakat memilih menahan keinginan untuk membelanjakan uangnya di sektor properti. “Para pengembang properti melakukan proteksi terhadap kenaikan harga material dan bunga bank. Jika tidak mampu mengantisipasi, industri properti akan berguguran,” ujar dia.

Pria yang akrab disapa Ari ini mengkhawatirkan sektor riil tidak bergerak lantaran tak sedikit dana yang mengendap di perbankan atau lembaga keuangan seperti deposito, valas, dan obligasi.

Masyarakat diperkirakan menyimpan dana di perbankan dibanding membeli properti lantaran harganya tak terbendung.

Selain properti, industri tekstil menjadi sektor paling terdampak pelemahan nilai tukar rupiah. Hampir sebagian besar industri tekstil menggantungkan bahan baku impor. Saat nilai tukar rupiah melemah, harga bahan baku otomatis naik sehingga berimplikasi pada melonjaknya biaya produksi.

Para pengusaha tekstil harus memutar otak untuk mencari cara menekan kenaikan biaya produksi.

“Industri tekstil yang bergantung pada bahan baku impor namun menjual produk di pasar lokal. Mereka membeli bahan baku sesuai Dolar AS namun menjual produk sesuai kurs rupiah. Mereka yang paling merasakan efek pelemahan nilai tukar rupiah,” papar dia.

Ari berharap pelemahan nilai tukar rupiah tak bertahan lama lantaran berpengaruh pada dunia usaha di Kabupaten Jamu. Pemerintah pusat harus berupaya keras agar nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS kembali menguat pada bulan depan.

Hal senada diungkapkan pengusaha properti asal Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Dariyo. Saat ini, bisnis properti masih lesu lantaran naiknya suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) antara 10 persen-12 persen.

Penjualan properti bisa terus terdongkrak dengan turunnya suku bunga KPR. Kalangan masyarakat menengah ke bawah bakal memanfaatkan penurunan suku bunga KPR untuk memiliki hunian yang layak. 

Tokopedia