Hasil Seleksi Perdes Sragen di 2 Desa Berubah

Koordinator calon perdes Ngarum, Eko Sunardi, (berdiri) menyampaikan aspirasi para calon perdes di Balai Desa Ngarum, Ngrampal, Sragen, Rabu (15/8 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
17 Agustus 2018 18:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Posko Pengaduan Pengisian Perangkat Desa (Perdes) di Inspektorat Sragen mendapat 38 aduan selama tiga hari pembukaan posko, Selasa-Kamis (14-16/8/2018). Dari aduan tersebut, ada dua desa yang harus mengubah pemeringkatan peserta berdasar hasil klarifikasi Inspektorat.

Dua desa tersebut yakni Desa Sidodadi Kecamatan Masaran dan Desa Saradan Kecamatan Karangmalang. Kemungkinan perubahan pemeringkatan juga terjadi di Desa Mojorejo, Kecamatan Karangmalang, tetapi hingga Jumat (17/8/2018) belum dilakukan.

Kepala Desa Sidodadi, Masaran, Ngatimin, saat dihubungi Solopos.com, Jumat siang, menjelaskan di Sidodadi memang terjadi perubahan ranking tetapi tidak menggeser ranking I. Dia menjelaskan permasalahan di Sidodadi itu awalnya ada 21 calon perdes dari 25 calon perdes yang mendapat nilai tes komputer dasar (TKD) nol dari perguruan tinggi.

Setelah diklarifikasi, kata dia, 21 calon perdes itu ada yang mendapat nilai 60, 90, dan 100. “Akhirnya terjadi perubahan ranking pada posisi 2 menjadi 3 sementara ranking I masih tetap. Sidodadi itu ada tiga lowongan, yakni Bayan II dengan tujuh pendaftar, Bayan III ada dua pendaftar, dan Kaur Umum ada 16 pendaftar. Sampai sekarang kami masih menunggu rekomendasi camat [untuk pelantikan],” katanya.

Camat Karangmalang, Sriyono, menyampaikan ada dua desa di Karangmalang yang mengadu ke Posko Pengaduan Pengisian Perdes, yakni Desa Saradan dan Desa Mojorejo. Setelah dimediasi di Inspektorat, semua pihak sepakat melakukan validasi ulang atas hasil penilaian di Saradan karena ada human error dari panitia desa. Hasil validasi itu diumumkan di Balai Desa Saradan.

“Hasil validasi itu mengakibatkan perubahan ranking untuk posisi Bayan dan Kaur Keuangan, sedangkan posisi Sekretaris Desa tetap. Calon perdes yang sebelumnya ranking I untuk posisi Bayan dan Kaur Keuangan bergeser digantikan calon perdes lainnya yang ternyata nilainya lebih tinggi setelah divalidasi,” ujarnya.

Sementara untuk Desa Mojorejo, Sriyono mengaku sempat memberi rekomendasi sebelumnya. Setelah adanya aduan ke Inspektorat dan sebelum pelantikan, Sriyono mencabut rekomendasi itu.

Dia mengatakan calon perdes sempat meminta validasi ke perguruan tinggi terkait dan hasilnya diakumulasi dengan nilai prestasi dan dedikasi kemudian diumumkan ulang.

“Saat ini proses di Mojorejo masih pengumuman calon perdes hasil validasi. Setelah itu dikonsultasikan ke camat untuk proses rekomendasi. Ya, nanti saya beri rekomendasi lagi untuk Mojorejo,” ujarnya.

Kabag Pemerintahan Desa (Pemdes) Sekretariat Daerah (Setda) Sragen, Suhariyanto, menyebut ada 38 aduan yang masuk ke pokso. Suhariyanto belum dapat memerinci aduan tersebut per kecamatan atau desa.

Inspektur Sragen, Wahyu Widayat, saat ditemui wartawan menyatakan ada 21 aduan yang masuk dari tujuh kecamatan. Wahyu menjelaskan memang ada tiga desa yang kemungkinan terjadi perubahan ranking tetapi hal itu menjadi wewenang camat dan panitia desa.

“Dari aduan yang masuk belum ada yang mengarah ke ranah pidana. Semua masih administrasi. Mungkin ada yang lapor ke kepolisian silakan. Aduan itu dari Kecamatan Karangmalang, Masaran, Tangen, Tanon, Mondokan, Sambirejo, dan Ngrampal. Fungsi kami sebenarnya mediasi dan membantu camat untuk mempertimbangkan sebelum membuat rekomendasi,” ujarnya.

Tokopedia