Debit Waduk Cengklik Tinggal 9 Juta Meter Kubik

Waduk Cengklik di kawasan Ngemplak, Boyolali. (Dokumen Solopos/ Aries Susanto)
17 Agustus 2018 17:43 WIB Anik Sulistyawati Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Waduk Cengklik membutuhkan sedikitnya 12 juta meter kubik (m3) air agar bisa mengaliri lahan-lahan pertanian hingga ke desa terjauh di wilayah Desa Giriroto. Namun kini debit Waduk Cengklik tinggal 9 juta m3.

Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pengguna Air (GP3A) Tri Mandiri, Samidi, mengatakan menyusutnya debit air disebabkan oleh terlalu banyaknya karamba yang dibudidayakan di waduk tersebut. “Pakan ikan enggak semuanya bisa larut,” kata Samidi saat berbincang dengan wartawan Solopos.com, Nadia Lutfiana Mawarni di Desa Dibal, Ngemplak, Boyolali, Rabu (15/8/2018) .

Sebagai solusinya, dia meminta pengerukan dilakukan di kawasan Waduk Cengklik. Pengerukan itu direncanakan dilakukan tahun depan setelah pembangunan saluran irigasi yang ditargetkan rampung maksimal akhir tahun ini. Jika tidak mencapai debit minimal, Sumidi mengatakan embung yang telah dibangun di wilayah Desa Giriroto tidak akan terisi air. Kini, pembangunan saluran itu telah mencapai 40%. Samidi berharap proyek ini bisa mengembalikan debit air di Waduk Cengkilik seperti sedia kala. “Dulu di tahun 1995-1998 debit [air Waduk Cengklik] bisa mencapai 12 juta m3, di tahun 70-an bahkan mencapai 17,5 juta m3,” tutur dia.

Proyek revitalisasi Waduk Cengklik diharapkan mampu mengaliri lebih dari 1.500 hektare lahan pertanian, yang terdiri dari lahan di wilayah saluran irigasi sayap kiri dan kanan. Samidi tak menampik jika selama ini lahan pertanian di wilayah saluran irigasi sayap kiri terbengkalai. Bahkan air tidak menjangkau Desa Giriroto. “Dengan selesainya proyek ini Insya Allah semua akan mendapatkan air,” imbuhnya.

Setelah proyek selesai, petani juga diharapkan mampu mencapai target swasembada pangan. “Karena kami juga menyadari akan ada dampak negatif dari pembangunan yang selama ini menyasar wilayah Ngemplak, upaya ini sekaligus memperkecil dampak itu,” kata dia.

Diwawancarai terpisah, Lurah Giriroto, Purwanto, mengatakan petani di desanya harus menambah biaya produksi dalam musim tanam kedua yang jatuh saat kemarau. Untuk menyiasati ketersediaan air di sawah tipe tadah hujan para petani harus menggunakan pompa dan diesel untuk mengalirkan air ke sawah-sawah. Dia berharap pembangunan embung yang langsung terhubung ke saluran irigasi Waduk Cengklik bisa menjadi solusi ketersediaan air. “Selain biaya tanam, kalau hasilnya bagus kami masih berharap musim tanam padi bisa tiga kali dalam setahun,” katanya belum lama ini.

Tokopedia