Tak Punya Lapangan, Warga Nglinggo Karanganyar Upacara di Sawah

Warga Nglinggo, Buran, Tasikmadu, Karanganyar, menggelar upacara HUT ke-73 RI di tengah sawah, Jumat (17/8 - 2018). (Solopos/Ponco Suseno)
17 Agustus 2018 12:35 WIB Ponco Suseno Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Tak ada rotan, akar pun jadi. Peribahasa itu diterapkan warga Nglinggo, Buran, Tasikmadu, dalam memperingati HUT ke-73 Republik Indonesia (RI), Jumat (17/8/2018).

Karena tak memiliki tanah lapang, ratusan warga Nglinggo akhirnya menggelar upacara peringatan HUT ke-73 RI di tengah sawah. Gagasan menggelar upacara di dusun itu muncul di benak warga sejak satu pekan lalu. Kendala muncul saat warga tak menemukan lahan yang cukup luas atau lapang guna menampung peserta upacara.

Kebetulan, di Dusun Nglinggo terdapat lahan pertanian di tanah kas desa yang dibiarkan bera seusai masa panen beberapa waktu lalu. Warga kemudian menyulap lahan seluas kurang lebih 1.500 meter persegi itu menjadi tanah lapang untuk menyelenggarakan upacara.

Rumput di areal sawah itu dibabati. Di tengah areal sawah yang masih ada sisa-sisa jerami itu dipasangi papan sebagai podium instruktur upacara. Tak jauh dari podium terdapat dua pengeras suara.

Di sisi barat podium ditancapi bambu sebagai tiang mengibarkan bendara Merah Putih. Jumat pagi, warga Nglinggo sudah berduyun-duyun ke lokasi upacara yang berada di tengah sawah itu.

Di antara mereka ada yang mengenakan pakaian seragam merah putih, batik, topi kertas warna-warni, para bocah yang mengenakan seragam sekolah dasar (SD), para petani dengan pakaian warna hitam, dan warga lainnya yang mengenakan pakaian bebas.

“Upacara di tengah sawah ini baru kali pertama diselenggarakan di sini. Sebelumnya, warga memang sangat antusias ingin memperingati HUT ke-73 RI. Melalui kegiatan ini, semoga semangat nasionalisme dan patriotisme semakin tertanam di sanubari warga. Kegiatan ini juga memperoleh dukungan penuh dari Kepala Desa Buran, Yayuk Sri Rahayu,” kata Kadus Nglinggo, Sudardi, seusai upacara.

Menjelang pukul 10.00 WIB, para peserta upacara sudah berbaris rapi di tengah sawah yang cuacanya cukup panas. Komandan upacara dari tokoh masyarakat setempat, Bambang Sutarmanto, sudah menyiapkan pasukan pertanda upacara dimulai. Instruktur upacara, Sudardi juga sudah menempati posisinya di podium.

Tepat pukul 10.00 WIB, master of ceremony (MC) memberikan aba-aba akan diselenggarakan detik-detik pembacaan naskah proklamasi. Setelah mendengar pengumuman itu, suasana di lokasi upacara yang tadinya khidmat menjadi “pecah”.

Seorang warga yang ada di pinggir jalan masuk ke mobil guna membunyikan klakson dalam tempo relatif lama. Di lokasi upacara, lima petani langsung membunyikan mesin traktornya.

“Ayo dibanterke [dikeraskan] suara mesin traktore. Ben gayeng [supaya meriah],” teriak salah seorang peserta upacara.

Salah satu petani, Sumarno, 44, rela meninggalkan pekerjaannya sebagai petani guna mengikuti upacara HUT ke-73 RI.

“Sehari-hari saya juga bekerja mengolah lahan [mengoperasikan traktor]. Hari ini [kemarin], saya batalkan pekerjaan mengolah lahan milik warga lain. Saya sengaja datang ke sini untuk ikut upacara. Ternyata acaranya juga meriah,” katanya.

Salah satu tokoh masyarakat Nglinggo, Bambang Sutarmanto, mengatakan upacara di tengah sawah menyambut HUT ke-73 RI memperoleh dukungan penuh dari masyarakat dan Pemdes Buran.

“Jumlah warga Nglinggo ini 800-an jiwa. Mayoritas bekerja sebagai petani. Ini menjadi wujud kami bangga terhadap bangsa dan negara. Melalui kegiatan ini, kami juga ingin mengenang sekaligus mendoakan jasa-jasa para pahlawan,” katanya.