Pedagang Pasar Klewer Timur Solo Mulai Gelisah

Lahan bekas Pasar Klewer timur. (Solopos/Dok)
18 Agustus 2018 17:15 WIB Ratih Kartika Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pedagang Pasar Klewer timur yang kini menempati kios darurat di Alun-Alun Utara (Alut) Keraton Solo mulai gelisah dengan ketidakpastian revitalisasi pasar tersebut.

Mereka berencana menemui pejabat terkait di Pemerintah Kota (Pemkot) Solo untuk membahas hal itu. Hal itu dikatakan Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Klewer Timur, Sutarso, saat ditemui Solopos.com di Alut, Rabu (15/8/2018).

Menurut Sutarso, pedagang perlu menanyakan kembali kepastian pembangunan Pasar Klewer Timur karena karena selama ini informasi tersebut belum jelas.

Berdasarkan catatan Solopos.com, ada beberapa opsi pendanaan pembangunan pasar itu yang mengemuka. Opsi yang saat ini berjalan adalah mencari dukungan dana corporate social responsibility (CSR) ke badan usaha milik negara (BUMN).

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Solo, Subagiyo, menempuh opsi itu mulai Senin (13/8/2018). Selain itu, DPRD Solo memberi masukan pasar dibangun dengan dana dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Pengajuan dana ke Kementerian Perdagangan (Kemendag) tidak mungkin lagi karena kementerian itu hanya menangani pembangunan pasar tipe D dengan anggaran maksimal Rp6 miliar. Sementara anggaran pembangunan Pasar Klewer Timur direncanakan Rp57 miliar.

"Sebetulnya saya pengin ketemu Wali Kota, tapi ya belum bisa," kata dia.

Jika bertemu Rudy, sapaan Wali Kota, Sutarso juga ingin menanyakan perihal nasib pedagang di pasar darurat mengingat masa sewa Alut sebentar lagi habis. Pemkot Solo sudah mengajukan dana perpanjangan sewa Alun-Alun Utara senilai Rp1,25 miliar dalam APBD Perubahan 2018.

"Kalau bisa jangan lama-lama [di pasar darurat]. Kasihan pemerintah kalau nanti sampai bayar kontrakan lagi," jelasnya.

Menurut dia, pedagang di pasar darurat bersabar menunggu pembangunan Pasar Klewer Timur sesuai imbauan Pemkot Solo. Para pedagang diminta tetap berjualan seperti biasa tanpa memikirkan pembangunan pasar.

"Biar yang memikirkan pemerintah," urai dia.

Sementara itu, terkait fasilitas di pasar darurat, pedagang tidak mempermasalahkannya. Sejauh ini, menurut Sutarso, tidak ada pedagang yang mengeluh berlebihan. Kendala utama hanya banjir saat hujan.

Keamanan memadai karena ada petugas keamanan dan pedagang senantiasa membantu berjaga pada malam hari. Penerangan pada malam hari juga memadai. "Pengemis jarang masuk. Pengamen juga,” jelas dia.

Pemilik Kios Hj. Rati, Rati, membenarkan apabila hujan, banjir melanda bagian tengah pasar darurat tersebut. “Kalau tempat saya enggak. Tapi kalau yang di tengah itu sering harus disedot genangan airnya kalau hujan,” ujar dia.

Seorang pembeli, Lestari, 45, sempat bingung karena pedagang langganannya pindah ke pasar darurat. Dia biasa belanja tiga kali setiap bulan. Dia berharap pembangunan segera terealisasi sehingga tidak membingungkan pembeli.

Tokopedia