Petani Sragen Sulit Dapat Solar Bersubsidi

Wakil Ketua DPRD Sragen Bambang Widjo Purwanto (kanan) sidak ke SPBU Pilangsari, Ngrampal, Sragen, Jumat (17/8 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
19 Agustus 2018 12:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Wakil Ketua DPRD Sragen Bambang Widjo Purwanto menginspeksi mendadak (sidak) dua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Sragen Kota dan Ngrampal, Jumat (17/8/2018) siang.

Sidak legislator Partai Golkar itu dilakukan lantaran ada aduan dari petani yang kesulitan mendapatkan solar bersubsidi untuk bahan bakar pompa air.

Sidak pertama dilakukan di SPBU SI Sragen Wetan. Di SPBU sebalah barat RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen itu tidak menjual solar bersubsidi tetapi solar nonsubsidi.

Bambang Pur kemudian bergerak menuju SPBU Pilangsari, Ngrampal. Kedatangannya di SPBU milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen itu disambut Pengawas SPBU Pilangsari, Puguh Priyono. Bambang Pur mempertanyakan pasokan solar bersubsidi di SPBU setempat yang berdampak pada sulitnya petani mendapatkan solar.

Puguh pun mengakui pasokan solar bersubsidi turun sampai lebih dari 50% dari PT Pertamina. Dia mengatakan biasanya kebutuhan harian itu bisa mencapai 16.000 liter sampai 24.000 liter ternyata hanya dipasok 8.000 liter per hari.

“Dengan pasokan 8.000 liter itu solar bisa habis kurang dari 12 jam. Kami minta 24.000 liter pun hanya diberi 8.000 liter, itu saja. Hal itu terjadi sejak empat hari terakhir. Akhirnya biar merata, kami membatasi pembelian solar bersubsidi," jela Puguh.

Puguh menguraikan kendaraan hanya boleh beli maksimal Rp300.000/kendaraan. Sementara petani selama bisa menunjukkan surat rekomendasi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bisa membeli dua jeriken berkapasitas 30 liter per jeriken.

Penjelasan Puguh bisa diterima Bambang Pur. Namun ia belum puas karena belum mengetahui penyebab berkurangnya pasokan solar bersubsidi ke Sragen.

“Banyak petani yang menjerit karena sulit mendapatkan solar. Biasanya butuh 36 liter per hari untuk menyedot air tetapi belakangan hanya dapat 10 liter per hari," kata Bambang.

Saat ini petani butuh air berlebih karena tanaman tanaman padi mereka sudah hampir berbunga. Pada fase inilah tanaman padi butuh air yang cukup. Kalau kekurangan air maka bulir padinya tidak penuh dan bisa jadi tidak berisi.

Dia berharap ada kebijakan tentang pasokan solar ke Sragen supaya petani bisa panen dan tidak merugi. Kalau kondisi ini dibiarkan, Bambang Pur khawatir tanaman padi pada musim panen nanti banyak yang hampa.

Tokopedia