Ingat, Jeroan Hewan Kurban Jangan Dicuci di Sungai

Petugas Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten mengobati luka pada kulit salah satu sapi yang dijual di Pasar Hewan Prambanan, Klaten, Kamis (16/8).(Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
19 Agustus 2018 15:10 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Warga dan panitia pelaksana penyembelihan hewan kurban diwanti-wanti tak mencuci jeroan serta membuang limbah isi perut hewan kurban ke sungai. Selain itu, mereka diimbau tak menggunakan kantong plastik terutama berwarna hitam untuk wadah daging dan jeroan.

Imbauan itu tertuang pada surat edaran (SE) sekretariat daerah (Setda) Klaten yang ditandatangani Sekretaris Daerah (Sekda) Klaten, Jaka Sawaldi, menjelang Iduladha. Surat ditujukan kepada para camat untuk disosialisasikan ke warga serta panitia pelaksanaan kurban melalui kepala desa atau lurah.

Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten, Sri Muryani Dwiatmini, mengatakan imbauan tak mencuci dan membuang isi perut hewan kurban ke sungai dimaksudkan untuk menjaga kelestarian sungai. “Harapannya agar kebersihan sungai tetap terjaga,” urai dia saat ditemui wartawan di DPKPP Klaten, Kamis (16/8/2018).

Terkait penyimpanan daging kurban, ia mengimbau agar disimpan dalam lemari pendingin. Penggunaan kantong plastik tak disarankan untuk menyimpan daging kurban. “Kalau menggunakan kantong plastik berwarna hitam bisa tercemar zat kimia yang terkandung di dalamnya,” jelas Sri Muryani.

Untuk pengawasan hewan kurban, DPKPP sudah membentuk 10 tim yang tersebar di berbagai wilayah. Mereka mengawasi ternak di pasar hewan serta pengepul dan mengawasi proses penyembelihan.

Kami memantau sebelum dan sesudah hari raya. Sebelum hari raya kami ke pasar dan pengepul agar ternak yang djual benar-benar dalam kondisi sehat. Saat penyembelihan juga kami pantau terutama pada bagian hati ternak sapi. Kalau terindikasi ada cacing hati, kami minta dikubur dan tidak boleh dibagikan untuk dikonsumsi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sri Muryani mewanti-wanti agar sapi betina produktif tak ikut dijual bahkan disembelih untuk kurban. Selain tak memenuhi persyaratan hewan kurban, penyembelihan sapi betina produktif bisa dikenai sanksi pidana sesuai UU No. 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Dalam UU tersebut, orang yang menyembelih ternak ruminansia kecil betina produktif dipidana kurungan paling singkat satu bulan dan paling lama enam bulan dengan denda paling sedikit Rp1 juta dan paling banyak Rp5 juta. Sementara, orang yang menyembelih ternak ruminansia besar betina produktif bisa dipidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama 3 tahun dengan denda paling sedikit Rp100 juta dan paling banyak Rp300 juta.

Kami sudah bekerja sama dengan polres bahwa ternak betina produktif dilarang keras untuk dipotong. Kalau pun ada betina yang disembelih itu benar-benar tidak produktif dintunjukkan dengan surat status reproduksi. Untuk saat ini memang sanksi pidana belum diberlakukan. Kami sifatnya masih imbauan,” jelas dia.

Sementara itu, petugas DPKPP mulai melakukan pengecekan kesehatan hewan kurban ke pasar tradisional dan pengepul. Hal itu seperti yang dilakukan di Pasar Hewan Prambanan, Kamis. Petugas memeriksa gigi dan mulut sapi serta menyemprotkan obat untuk luka kulit sapi.

Hasil pemeriksaan sementara ada sapi yang luka pada kulit. Secara umum itu tidak masalah,” kata Kasi Pengembangan Usaha Peternakan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner DPKPP Klaten, Tri Yanto.