Maknai Kemerdekaan, Warga Tibayan Klaten Membatik Kain 73 Meter

Warga Dukuh Girimulyo, Desa Tibayan, Kecamatan Jatinom, Klaten, membatik di kain sepanjang 73 meter, Sabtu (18/8/2018). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
19 Agustus 2018 18:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Deretan bambu terpasang miring di sisi kanan dan kiri hingga jalan kampung Dukuh Girimulyo, RT 018/RW 010, Desa Tibayan, Kecamatan Jatinom, Klaten.

Payung kertas menghiasi ujung dan batang bambu. Kain sepanjang 73 meter dengan lebar 90 sentimeter terbentang pada bagian deretan bambu lainnya hingga menutup ujung jalan cor.

Warga mulai berdatangan sembari membawa dingklik atau kayu untuk alas duduk mengambil tempat di depan kain. Tangan mereka sudah memegang pensil dan canting. Di samping tempat mereka duduk, kompor minyak menyala memanaskan malam dalam wajan kecil.

Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun ikut memenuhi jalan kampung. Seperti Fitri, 11, dan Riska, 9, yang baru saja pulang sekolah. Fitri asyik menebalkan kombinasi gambar burung merak, alat musik rebab, daun pisang, daun kelapa, buah kelapa, daun pepaya, serta pita bertuliskan Sayuk Rukun, nama sanggar yang ada di kampung itu. Sketsa tersebut sudah ada di kain batik berwarna putih.

Ini ditebalkan dulu nanti baru membatik. Kemarin sudah diajari caranya. Kegiatannya asyik,” kata Fitri.

Sementara, kaum perempuan dan laki-laki dewasa mulai menggoreskan canting mengikuti sketsa setelah dicelupkan pada malam yang meleleh. Kegiatan membatik itu dilakukan warga setempat untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda guna memeriahkan HUT ke-73 Kemerdekaan Indonesia.

Jumlah payung dan panjang batik kami sesuaikan dengan angka HUT Kemerdekaan Indonesia yakni 73,” kata Ketua RT setempat, Winarno, 48, saat ditemui Espos di sela kegiatan, Sabtu (18/8/2018).

Winarno mengatakan kegiatan dilakukan untuk menambah keterampilan warga selain melestarikan batik di kampung tersebut. Tak sekadar membatik, warga berencana memanfaatkan kain itu setelah rampung menjadi kain batik siap pakai. Kain-kain dipotong dan digunakan sebagai bakal untuk pakaian seragam anak-anak.

Dari membatik ini harapannya warga bisa mandiri membuat karya batik hingga meningkatkan ekonomi keluarga. Ini baru mau kami kembangkan,” ungkapnya.

Ketua panitia kegiatan, Agus Riyadi, menuturkan sepekan sebelumnya persiapan sudah dilakukan dengan melatih warga cara membatik dengan mendatangkan pelatih. Desain batik merupakan karya salah satu warga setempat, Rasyid Maulana. “Setelah selesai membatik kain diambil dan akan digunakan untuk seragam anak-anak,” tutur dia.

Sementara, pembuat logo batik, Rasyid mengatakan ide membuat desain itu terinspirasi dari berbagai hal yang ada di desa setempat. Ia mencontohkan daun dan buah kelapa yang banyak ditemui di pekarangan rumah warga. Gambar yang ada di desain itu memiliki makna masing-masing.

Burung merak dan rebab melambangkan manifestasi keindahan dan keselarasan. Daun kelapa muda melambangkan keterampilan, keuletan, dan kemauan. Dua buah kelapa muda melambangkan semangat bekerja keras. Daun pepaya melambangkan jiwa yang sehat dan kuat. “Desain ini dinamakan Lama Kapti,” kata Rasyid yang berstatus mahasiswa UNY itu.