Pemulung Asal Slogohimo Wonogiri Kini Jawara BMX dan Bintang Iklan Ibukota

Trisno Widiyanto yang akrab disapa Kotex saat mengikuti kejuaraan sepeda di Jakarta, beberapa waktu lalu. (Ist)
19 Agustus 2018 18:41 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Trisno Widiyanto yang lebih dikenal dengan nama Kotex pemuda warga Desa Made, Kecamatan Slogohimo, Wonogiri,  telah mengukir berbagai prestasi.

Dia yang sebelumnya hanya seorang pemulung, kini mengantongi banyak jawara, seperti juara pertama dalam ajang Bandung Bike Trail, juara pertama kompetisi Bike Fest Trial Competition Jakarta, dan juara pertama Trial Bike Festival di Jakarta. Selain itu, juara kompetisi trial bike atau sepeda BMX skala nasional kerap ia raih dalam delapan tahun terakhir.

Pria kelahiran Wonogiri 27 Oktober 1988 telah menekuni olahraga ekstrim sejak lulus SD pada tahun 1999. Saat itu, ia mengadu nasib ke Jakarta menjadi seorang pemulung hanya berbekal sepeda dan uang seadanya.

Ia bersepeda dari Wonogiri ke ibukota memakan waktu satu pekan demi kecintaannya terhadap sepeda yang sempat tak direstui orang tuanya.

Kotex, saat ditemui Solopos.com, di Alun-Alun Giri Krida Bhakti, beberapa waktu lalu menceritakan kisah hidupnya. Selama di Jakarta, ia mengamen dan memulung dengan menggunakan sepeda.

Pekerjaan itu dia lakoni selama hampir lima tahun tinggal di ibukota. 

“Saya tidur di kolong Jembatan Tomang saat itu, uang yang saya peroleh dari memulung saya gunakan untuk menyalurkan hobi bersepeda, selain itu juga untuk makan. Hingga akhirnya saat menjadi kuli bangunan, saya bisa membeli sepeda dengan harga Rp160.000 saat itu, berkat tabungan, saya bisa ikut event kecil-kecilan dan hasilnya dapat membeli sepeda dengan harga Rp900.000,” ujar Kotex.

Hidupnya kian mapan dengan BMX. Seiring berjalannya waktu, ia mendapat berbagai tawaran menjadi bintang iklan dan beberapa acara di televisi seperti Mata Lelaki, Komunitas Unik, Jejak Malam, film Gerhana Bulan, iklan produk makanan, dan iklan dari salah satu perusahaan maskapai penerbangan.

Membuka Bengkel

“Saya belajar murni otodidak, saya juga tidak menyangka dapat seperti ini. Berbagai rintangan saya lalui dan setiap latihan juga tidak selalu mulus. Gigi saya rontok banyak, rahang patah, pundak patah tapi wujud kecintaan saya terhadap dunia sepeda,” ujar Kotex, yang kini didapuk sebagai pelatih keselamatan berkendara di Jakarta.

Ia menilai Wonogiri memiliki potensi dalam dunia olahraga sepeda. Berbagai nama atlet yang menjuarai kejuaran sepeda banyak yang berasal dari Kota Gaplek. Ia mengaku siap kembali ke Wonogiri apabila dipercaya untuk mengelola dunia olahraga sepeda di Kabupaten Wonogiri.

Ia berencana kembali ke Wonogiri membuka pelatihan sepeda gratis dan membuka bengkel sepeda sebagai wujud kecintaan di tempat kelahirannya.