Kebakaran 2 Rumah di Gilingan Solo Diduga Karena Korsleting

Petugas pemadam kebakaran bersama relawan dan warga berusaha memadamkan api yang membakar rumah di Cinderejo, RT 002/RW 006, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Jateng, Senin (20/8 - 2016). (Solopos/Nicolous Irawan)
20 Agustus 2018 14:55 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO – Dua rumah di Kampung Cinderejo Lor RT 002/RW 006 Kelurahan Gilingan, Banjarsari, Solo ludes terbakar, Senin (20/8/2018) pagi. Sumber kebakaran diduga berasal dari korsleting listrik yang terjadi di salah satu rumah tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, sejumlah warga berinisiatif mencoba memadamkan kobaran api dengan peralatan seadanya. Namun, usaha warga Cinderejo Lor tersebut sia-sia karena api sudah terlanjur membesar. Kobaran api bahkan telah menghanguskan dua bangunan rumah di Cinderejo Lor. Sementara beberapa warga lain lebih memilih menyelematkan barang-barang milik sendiri. Warga tersebut mengeluarkan barang-barang berharga dari dalam rumah karena takut kobaran api merembet hingga menyentuh tempat tinggal mereka.

Seorang saksi mata di lokasi kejadian perkara (TKP) kebakaran, Danang Subari, 34, menceritakan kobaran api awalnya terlihat dari rumah Mujiem, 57, sekitar pukul 09.30 WIB. Angin kencang membuat kobaran api semakin menjadi-jadi. Benar saja, dia menuturkan, dalam hitungan menit kobaran api dari rumah Mujiem yang dimanfaatkan juga sebagai kos-kosan merembet ke rumah yang berada di selatannya. Danang mengatakan saat terjadi kebakaran, Mujiem atau keluarganya tidak sedang berada di rumah.

“Saat saya sampai di sini, api sudah merembet ke rumah sebelah. Yang punya rumah kamarnya lagi jagong ke Wonogiri. Yang di rumah tadi anak-anak kos sama orang yang makan di warung depan rumah. Kami cukup kesulitan membantu memadamkan kobaran api karena angin sedang kencang sehingga api cepat merembet ke mana-mana,” ujar Danang saat ditemui Solopos.com, Senin siang.

Pemilik rumah, Reni Mumpuni, 35, menceritakan saat kebakaran terjadi, dirinya masih tertidur di lantai kedua. Dia terbangun akibat terdengar suara gaduh dari luar rumah. Reni begitu kaget ketika mendapati ternyata ada kobaran api di langit-langit kamarnya. Dia pun langsung melompat dari kasur untuk menjauhi kobaran api. Reni beruntung tidak terlalu panik. Dia masih sempat menyelamatkan sejumlah surat dan dokumen pentingnya. Namun, Reni mengaku tetap saja sedih lantaran banyak barang lain yang hangus terbakar api.

“Setelah saya lihat ke bawah [lantai pertama], ternyata benar ada kebakaran di samping rumah. Saya kemudian langsung lari lagi ke atas untuk mengamankan surat-surat berharga. Saya beruntung masih sempat menyelamatkan berkas berharga. Namun, ada banyak perabotan lain di dalam rumah yang tidak sempat atau bisa saya selamatkan," terang ibu satu anak itu.

Seorang penghuni kamar kos di rumah Mujuem, Karniati, 40, bercerita saat terjadi kebakaran, dirinya sedang berada di teras rumah. Dia menduga api berasal dari salah satu kamar kos. Warga Dukuh Ngipang, RT 016/RW 006 Desa Gawan, Tanon, Sragen itu menduga penghuni kamar kos lupa mematikan alat elektroniknya sehingga menjadi panas dan munculah percikan api. Dia mengajak kepada seluruh masyarakat Solo khususnya untuk bisa memastikan rumah dalam kondisi aman sebelum di tinggal ke mana pun.

Kobaran api yang menghanguskan dua rumah di Cinderejo Lor bisa dengan cepat ditangani Dinas Pemadan Kebakaran (Damkar) Solo. Dalam hitungan waktu sekitar15 menit, kobaran api sudah bisa ditaklukkan petugas Damkar. Kepala Dinas Damkar Solo, Gatot Sutanto, mengaku cukup kesulitan melakukan pemadaman api pada kebakaran kali ini. Pasalnya, lokasi jalan menuju rumah tersebut tergolong cukup sempit. Gatot menyebut salah satu mobil milik Damkar bahkan harus rusak di bagian kaca depan setelah menabrak pohon yang tumbuh di jalan tersebut.

Dia menerangkan sedikitnya ada enam truk tanki air yang dikerahkan Damkar untuk memadamkan api di Cinderejo Lor. Untuk sementara, Damkar Solo menduga api muncul karena terjadi hubungan arus pendek listrik di salah satu rumah. “Sebenarnya kami sudah sering menggelar sosialisasi salah satunya menekankan kepada masyarakat agar tidak meninggalkan rumah dalam kondisi alat elektrobik yang masih hidup," jelas Gatot.