Cari Berkah, Orang Ini Minum Air Bekas Cuci Meriam Keraton Solo

Prosesi jamasan meriam pusaka Nyai Setomi di Sitihinggil Keraton Solo, Senin (20/8 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
20 Agustus 2018 21:33 WIB Ivan Andimuhtarom Solo Share :

Solopos.com, SOLO - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menyelenggarakan Jamasan Kanjeng Nyai Setomi di Sitihinggil Keraton Surakarta, Senin (20/8/2018). Jamasan atau ritual penyucian salah satu pusaka Keraton Solo berupa meriam tersebut dilakukan menjelang Hajad Dalem Garebeg Besar (Idul Adha) 2018.

Acara jamasan dipimpin langsung oleh Pengageng Sasana Wilapa Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat G.R.Ay. Koes Sapardiyah. G.R.Ay. Koes Sapardiyah, mengatakan prosesi jamasan dilaksanakan atas perintah Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (SISKS) Pakubuwono XIII.

Jamasan tersebut dihadiri para kerabat seperti Gusti Kanjeng Ratu Alit (Pengageng Parentah Keputren Keraton Surakarta Hadiningrat), GRAy. Koes Raspiyah (Rayi Dalem SISKS.Pakoe Boewono XIII), para abdi dalem, dan abdi dalem ulama keraton.

Ia menjelaskan Jamasan Kanjeng Nyai Setomi dilakukan tiga kali dalam setahun yaitu sebelum acara Hajad Dalem Garebeg Pasa (Idul Fitri), Garebeg Besar (Idul Adha), dan Garebeg Maulud (lahirnya Nabi Muhammad SAW). Meriam yang merupakan pasangan Kyai Setomo atau meriam Si Jagur di Museum Fatahillah, Jakarta, ini tidak pernah diperlihatkan kepada masyarakat umum dengan alasan tertentu.

Staf Sasana Wilapa, Raden Tumenggung Danang Wahyu Dipuro, mengatakan asap dupa mulai tercium saat para sentana dan para abdi dalem mulai berdatangan, Senin pagi. Menurutnya, doa dalam bahasa Jawa dan Arab lalu dilantunkan.

“Seorang abdi dalem berbeskap hitam lantas memasang kunci dan membuka pintu Manguneng, bangunan kotak kaca yang terletak di tengah Bangsal Witono di kompleks Sitihinggil Keraton Surakarta. Tidak lama, ia keluar membawa kain untuk menyelubungi benda di dalam kerobong yang dipercayai adalah meriam Nyai Setomi,” ujarnya kepada solopos.com, Senin.

Setelah itu, sentana dalem dan seorang abdi dalem masuk ke kerobong dengan membawa lisah sangga langit, campuran minyak goreng dan air yang digunakan untuk membersihkan meriam. Selanjutnya, dimulailah prosesi mencuci pusaka atau jamasan meriam Nyai Setomi.

“Abdi dalem pria membersihkan debu yang menempel di bangunan Manguneng dengan sapu lalu mengguyurnya dengan air agar semakin bersih. Pembersihan juga dilakukan terhadap meriam namun prosesnya tidak terlihat,” terangnya.

Air bekas jamasan meriam diperebutkan pengunjung yang datang dengan harapan mendapat berkah dan keselamatan. Tanpa ragu, air yang berwarna kecokelatan diminum atau digunakan untuk cuci muka. "Ada salah satu warga Boyolali bernama Juli yang minum air jamasan supaya diberi keselamatan," kata dia.

Warga juga membawa sisa air jamasan untuk keluarga mereka. Bersamaan dengan dibersihkannya Nyai Setomi dan bangunan Manguneng, para abdi dalem perempuan mengoles tangan, kaki, dan bagian atas tubuh mereka yang terlihat dengan batang sabun.

 

 

Tokopedia