Rayakan Iduldha Hari Ini, MTA Minta Perbedaan Waktu Dihargai

Jemaah mengikuti salat Iduladha yang diselenggarakan Majelis Tafsir Alquran (MTA) di Lapangan Parkir Stadion Manahan Solo, Selasa (21/8 - 2018). (Solopos/Ivan Andimuhtarom)
21 Agustus 2018 08:30 WIB Ivan Andimuhtarom Solo Share :

Solopos.com, SOLO – Majelis Tafsir Alquran (MTA) menyelenggarakan salat Iduladha 1439 H/2018 di Kompleks Stadion Manahan Solo, Selasa (21/8/2018) pagi. Pelaksanaan salat Iduladha dilakukan sehari sebelum tanggal yang ditetapkan pemerintah yaitu Rabu (22/8/2018).

Pantauan Solopos.com, ribuan jemaah hadir dalam kegiatan ibadah tersebut. Para jemaah sudah berdatangan sejak pukul 05.00 WIB. Sebagian kendaraan diparkir di dalam kompleks stadion. Sedangkan lainnya parkir di luar stadion.

Lokasi imam salat dan mimbar untuk khotbah berada di sebelah utara Pintu A Stadion Manahan atau di belakang patung Ir. Sukarno. Para jemaah dengan teratur membentuk saf atau barisan salat dengan menempati area stadion. Saking banyaknya jemaah, sebagian jemaah salat terpaksa di samping luar pagar Pintu A Stadion Manahan.

Imam sekaligus khotib dalam salat Iduladha 1439 H tersebut adalah H. Abdurrauf yang merupakan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Salat Iduladha dimulai pukul 06.22 WIB.

Pimpinan MTA, Ustaz Ahmad Sukina, menjelaskan MTA berpegang pada ketentuan salat Iduladha dilaksanakan setelah wukuf di Padang Arafah. Menurutnya, hari wukuf tersebut dengan di Indonesia sama harinya, hanya berbeda jam.

"Maka hari rayanya ketemu [Selasa]," ujarnya saat ditemui wartawan seusai salat Iduladha, Selasa.

Menurut keyakinan pengikut MTA, jika Iduladha dilaksanakan pada Rabu, tidak ada titik temu hari antara wukuf di Arafah dengan hari di Indonesia. Namun, ia mempersilakan saudara sesama muslim yang mengambil Rabu sebagai hari raya Iduladha 1438 H.

"Kita saling menghormati. Tidak saling menyalahkan. Insyaallah di sisi Allah semuanya benar," tuturnya.

Terkait jumlah hewan kurban yang bakal disembelih selama Idulahda dan hari tasyrik 1439 H, Ustaz Sukina belum bisa menghitung. Pihaknya baru bisa menghitung totalnya setelah penyembelihan selesai dilakukan. Ia mengatakan pada tahun lalu MTA menyembelih 560 ekor sapi dan 3000-an kambing. Tahun ini, sentra penyembelihan wilayah Solo tak lagi di Semanggi, Pasar Kliwon, Solo.

"Penyembelihan kurban di Solo dipusatkan di Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo. Tapi di daerah lain juga ada seperti Matesih (Karanganyar) dan Polokarto (Sukoharjo)," ungkap dia.

H. Abdurrauf, dalam ceramahnya mengatakan Iduladha atau Idulkurban tak bisa dilepaskan dari sosok sentral yang melatarbelakangi syariat tersebut, yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ia mengajak umat Islam merenungkan dan menghayati dahsyatnya sejarah yang mengawali Iduladha.

"Betapa mendebarkan, seorang ayah yang sejak lama mendamba seorang anak, lalu begitu lahir lalu dewasa, Allah memerintahkan Ibrahim menyembelih anaknya. Di sisi lain, sang anak, begitu mendengar ayahnya, tanpa pikir panjang, mengiyakan perintah Allah tersebut," paparnya kepada jemaah yang hadir.

Menurut dosen Fakultas Syariah UIN Jakarta itu, ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail. Ia menyebut, paling tidak ada tiga pelajaran.

Pertama, pelajaran tentang kepatuhan, ketundukan, ketaatan dan kepasrahan diri kepada Allah. Kedua, pelajaran tentang kesabaran dan rida terhadap ujian dari Allah. Ketiga, pelajaran tentang pengorbanan.

"Keduanya rela berkorban apa saja untuk mendapat keridaan Allah SWT. Cinta kepada Allah di atas segalanya," kata dia.