Ini Fakta Misteri Pohon Raksasa Boyolali

Seorang warga berjalan di dekat pohon Leses raksasa di Dukuh Gendol, Desa Tambak, Kecamatan Mojosongo, Boyolali beberapa waktu lalu. (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
21 Agustus 2018 07:00 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Seiring perkembangan zaman, pohon-pohon besar di sekitar permukiman penduduk semakin jarang ditemui. Keberadaannya saat ini hanya bisa ditemui di tempat-tempat khusus seperti di dekat mata air atau di dekat permakaman. Sebagian, pohon besar itu adalah pohon Beringin.

Namun di Desa Tambak, Kecamatan Mojosongo, Boyolali masih ada pohon Leses yang sangat besar. Lokasinya, dari simpang empat Stadion Pandanarang (Stadion Sololayu) ke selatan sekitar 4,1 km atau sekitar 8 menit dengan kendaraan bermotor.

Pohon ini mungkin bisa disebut pohon raksasa karena diameter terluarnya mencapai lebih dari 5 meter dan batangnya menjulang ke atas. Setidaknya sebutan raksasa ini cukup pantas jika ukuran pohon ini dibandingkan dengan pohon-pohon lain di sekitarnya yang rata-rata berdiameter kurang dari 1 meter.

Konon, pada zaman dahulu pohon ini menjadi salah satu lokasi bermain favorit anak-anak desa setempat dan sekitarnya. Mereka bermain panjatan, ayunan, bahkan rongga pohon ini menjadi persembunyian yang mantap saat mereka bermain petak umpet. Selain itu, di pohon ini konon juga pernah dibuat sebuah gubuk ala rumah pohon.

Hinggi kini pohon yang terletak di Dukuh Gendol ini tetap lestari. Akarnya masih terlihat kokoh dan daunnya masih rindang dan subur. Rongga pohon yang konon bisa menampung belasan anak kecil di dalamnya, kini tampak sempit karena terdesak batang bohon yang kian membesar.

Di Tengah Warga

Sementara itu, meski berada di tengah perkebunan warga, pohon raksasa ini menarik perhatian warga dari luar desa. Buktinya, pohon ini sering menjadi jujugan muda-mudi luar daerah dan siswa sekolah untuk sekadar berswafoto.

“Pohon ini memang cukup besar sehingga mungkin mengundang penasaran orang-orang untuk ke sini. Sering ada anak berseragam sekolah SMA yang datang untuk berfoto-foto,” ujar warga setempat, Leli Miftakul Jannah, 22 saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu (15/8/2018) di lokasi.

Tidak diketahui secara pasti usia pohon Leses yang berada di RT01/RW 03 tersebut, tetapi diperkirakan sudah berusia ratusan tahun. Ny. Sinu, 60 seorang warga setempat mengatakan, semasa dia kecil, pohon itu sudah ada dan ukurannya saat itu juga sudah cukup besar. “Waktu saya kecil pohon ini sudah ada. Saya dan teman-teman sering bermain di sekitar pohon ini,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu perangkat desa Tambak, Suwarno, 65, memperkirakan, pohon tersebut sudah ada sejak zaman Belanda. “Ayah saya pernah bercerita bahwa semasa dia kecil, pohon itu juga sudah ada. Mungkin saat zaman Belanda sudah ada,” kata Kaur Keuangan ini saat dijumpai di Balai Desa Tambak. Meski usianya sudah tua, pohon itu hingga saat ini tidak ditebang.

Mungkin, lanjutnya, ada alasan yang sakral sehingga pohon itu dibiarkan hingga saat ini. “Mungkin tidak ada yang berani menebang pohon ini. Dalam sejarahnya pohon itu pernah dihuni ular besar tapi kepergiannya juga tidak ada yang tahu,” imbuhnya.

Suwarno mengatakan, selain satu pohon Leses raksasa itu, ada satu lagi pohon Leses raksasa lain yang ukurannya tidak sebesar pohon pertama. “Jadi di sini ada dua pohon Leses besar itu. Yang satu Leses lanang [laki-laki] yiatu yang paling besar dan yang satunya Leses wedok [perempuan]. Katanya pohon ini berpasangan,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Desa Tambak, Joko Mursito mengatakan, pihaknya belum memiliki rencana apa pun mengenai pohon-pohon raksasa tersebut.