1.046 Ha Lahan Pertanian Boyolali Terdampak Kekeringan

Ilustrasi sawah kering saat musim kemarau. (Bisnis/Rahmatullah)
21 Agustus 2018 09:30 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI – Lahan pertanian seluas 1.046 hektare (ha) di Boyolali terdampak kekeringan, 633 ha di antaranya puso.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali, lahan tersebut terdampak kekeringan kekeringan mulai April hingga pertengahan Juli 2018 secara komulatif.

Dalam data itu disebutkan kekeringan lahan pertanian tersebar di delapan kecamatan yakni Kecamatan Sambi, Ngemplak, Nogosari, Simo, Karanggede, Klego, Andong, dan Wonosegoro.

Paling parah dialami Kecamatan Andong dengan luas lahan pertanian yang mengalami puso seluas 436 ha, disusul Kecamatan Sambi dengan 99 ha dan Kecamatan Klego 66 ha.

Selain puso, sejumlah wilayah juga mengalami kekeringan berat pada lahan pertanian mereka. Kekeringan berat ini paling luas dialami Kecamatan Sambi dengan 75 ha dan disusul Kecamatan Klego dengan 45 ha.

Kepala Dispertan Boyolali Bambang Jiyanto mengatakan, kekeringan lahan pertanian pada musim kemarau memang tidak dapat dihindari. Terlebih pada sawah tadah hujan yang hanya mengandalkan pengairan yang berasal dari air hujan.

“Memang kemarau tahun ini datang lebih awal sehingga waktunya lebih panjang. Kondisi akan sangat berpengaruh terhadap pengairan sawah tadah hujan. Kalau tidak ada hujan, otomatis tidak ada yang untuk mengairi sawah mereka,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (20/8/2018).

Sementara itu, luas baku lahan Boyolali 22.711 ha. Lahan itu terdiri atas lahan sawah seluas 12.592 ha dan sawah tadah hujan seluas 10.119 ha.

Pada musim kemarau seperti saat ini lahan tadah hujan tersebut sebagian dapat diupayakan untuk tanaman pertanian dengan memanfaatkan antara lain sumur pantek, sumur dalam, jaringan perpipaan dan lain-lain. Sedangkan sebagian yang lain (kurang lebih 2.350 ha) memang tidak bisa diupayakan karena keterbatasan sumber air.

Meski demikian, Bambang mengatakan petani di sejumlah daerah memanfaatkan lahan pada musim kemarau untuk menanam komoditas yang berumur pendek dan tidak terlalu banyak membutuhkan air. “Ada beberapa wilayah yang lahannya masih menyimpan air di dalam tanah, mereka menggali sedikit untuk mengairi lahan yang sudah mereka tanami kacang-kacangan,” kata Bambang.