Warga Nekat Cuci Jeroan Hewan Kurban di Sungai Solo

Petugas DPKPP Kabupaten Klaten mendampingi warga saat memotong dan memilah daging sapi kurban Iduladha 1439 H, di Delanggu, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (22/8 - 2018). (Antara/Aloysius Jarot Nugroho)
22 Agustus 2018 13:30 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO – Sejumlah warga terpantau masih saja nekat mencuci jeroan atau organ dalam hewan kurban Iduladha di aliran sungai Kota Bengawan.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, Rabu (22/8/2018) pagi, belasan orang kedapatan memanfaatkan aliran sungai kecil yang berada sejajar dengan Jl. Slamet Riyadi wilayah Kelurahan Kerten, Laweyan untuk mencuci jeroan hewan kurban Iduladha 2018. Kotoran isi jeroan otomatis mencemari anak Kali Jenes. Sekelompok orang yang memadati sungai kecil di dekat Gedung Pusat Pengembangan Bisnis (Pusbangis) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo itu diketahui memakai seragam biru dongker bertuliskan Masjid Ar Rohman Kerten.

Mencuci jeroan hewan kurban sembarangan juga terpantau terjadi di aliran Kali Anyar, tepatnya di dekat Jembatan Biru utara Kampus UNS Solo. Jumlah mereka bahkan mencapai 20 orang lebih. Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok saat mencuci jeroan hewan kurban di aliran Kali Anyar wilayah perbatasan antara Kelurahan Jebres dengan Kelurahan Mojosongo. Warga diduga nekat mencuci jeroan di sungai karena terbilang praktis. Kotoran isi jeroan bisa langsung hanyut saat organ dalam dicuci.

Saat dimintai tanggapan, Wakil Wali (Wawali) Kota Solo, Achmad Purnomo, menyesalkan sikap warga yang masih saja nekat mencuci jeroan di aliran sungai. Tindakan tersebut jelas termasuk tindakan pencemaran lingkungan dan mengganggu kenyamanan warga lain khususnya yang tinggal di sekitar sungai. Dia mengklaim Pemerintah Kota (Pemkot) Solo selama ini telah sering memberikan edukasi kepada para panitia penyembelihan hewan kurban di berbagai kelurahan di Solo salah satunya terkait larangan membuang kotoran hewan kurban ke sungai.

“Setiap tahun kami telah mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mencuci jeroan di sungai. Pak Wali kemarin juga sudah meminta kepada semua tempat penyembelihan termasuk kepada Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan [Dispertan KPP] Solo agar menyediakan tempat khusus guna membuang kotoran hewan kurban,” jelas Purnomo saat ditemui Solopos.com di sela-sela menghadiri acara di Masjid Al Wustho, Rabu.

Disinggung soal pemberian sanksi kepada warga yang masih nekat mencuci jeroan atau membuang kotoran hewan kurban ke sungai, Purnomo mengakui Pemkot tidak pernah melakukan hal itu. Dia menyebut, Pemkot sengaja memilih tidak memberikan sanksi tegas kepada warga yang mencuci jeroan sembarangan selayaknya para pembuang sampah sembarangan ke sungai karena ingin memberikan edukasi dulu.

Pemkot meminta para panitia penyembelihan hewan kurban bisa bekerja sama menjaga lingkungan sungai. Lagi pula aktivitas panita kurban mencuci jeroan di sungai bakal merugikan warga penerima daging kurban.

“Air sungai ini kan tidak pasti bersih. Sebaiknya jeroan ya dicuci dengan air jernih karena nantinya juga dikonsumsi oleh orang banyak. Kalau panitia penyembelihan kurban ini berperilaku bersih, tentu menguntungkan mereka yang mendapatkan daging kurban,” jelas Purnomo.

Kepala Satpol PP Solo, Sutarjo, saat ditemui Solopos.com di Masjid Al Wustho, mengaku tak mengerahkan personel untuk memantau aktivitas warga mencuci jeroan di aliran sungai. Menurut dia, tugas tersebut lebih tepatnya ditanggung oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Solo karena bersinggungan dengan pencemaran lingkungan. Sutarji dalam hal ini hanya bisa menyarankan kepada warga atau takmir masjid di 51 kelurahan di Solo agar mulai mempersiapkan prasarana khusus untuk penyembelihan hewan kurban di wilayah masing-masing.

Prasarana khusus itu bisa dibuat di kompleks masjid berupa lubang permanen atau septic tank untuk menampung darah kotoran. Sutarjo meminta warga tidak merusak momen besar perayaan Iduladha dengan mencemari sungai.