Gunungan Gerebek Besar Keraton Kasunanan Solo Ludes Direbut Warga

Warga berebut gunungan pada Grebeg Besar di Masjid Agung, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Rabu (22/8 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
22 Agustus 2018 15:40 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO – Derap langkah prajurit dengan iringan suara drum band membuka kirab Gerebeg Besar yang digelar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Rabu (22/8/2018). Selanjutnya berurutan sekumpulan prajurit, kerabat keraton, dan disusul para abdi dalem membawa dua buah gunungan.

Gunungan itu merupakan gunungan jaler (laki-laki) yang dihias aneka hasil bumi. Satu lagi merupakan gunungan estri (perempuan) yang dihias dengan makanan rengginang. Selain itu abdi dalem yang menyunggi ancak cantaka sebagai wadah dari 1.000 nasi tumpeng.

Prosesi Grebeg Besar dimulai sekitar pukul 10.30 WIB. Prosesi diawali kirab dua gunungan diarak dari Kori Kamandungan melewati Sithinggil, Pagelaran, Alun –Alun Utara (Alut) hingga halaman Masjid Agung Solo.

Suasana khidmat tampak mengiringi prosesi arak-arakan. Sampai di halaman Masjid Agung, dua buah gunungan diserahkan kepada takmir masjid untuk didoakan sebelum menjadi rebutan warga. Gunungan jaler menjadi rebutan warga di Masjid Agung.

Sedangkan gunungan estri dibawa kembali dan menjadi rebutan warga di depan Keraton Solo. Tak ada lima menit, seluruh isi gunungan ludes tak tersisa.

Siang yang terik tak menghalangi warga untuk melihat acara tersebut. “Alhamdulillah entuk [dapat] rengginang,” ucap Sularno, 57, warga Musuk, Boyolali seusai mendapatkan rengginang. Rengginang tersebut rencananya disimpan di rumah.

Ucapan syukur juga disampaikan Maryati, 52, abdi dalem. Di usianya yang semakin senja tak menyurutkan langkahnya ikut berebut gunungan Grebeg Besar. Dia mengaku setiap tahun tidak pernah absen untuk berebut gunungan. Dia mempercayai sayur mayur maupun rengginang yang telah didoakan bisa membawa rezeki dan kemakmuran bagi keluarganya.

“Mau ditanam di rumah,” tuturnya.

Gunungan yang dibagikan kepada masyarakat merupakan simbol sedekah raja kepada rakyatnya sekaligus wujud rasa syukur Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi terhadap Allah SWT. Dia berharap Grebeg Besar tidak punah dan terus dilestarikan oleh pihak Keraton Solo.

Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, K.G.P.H. Dipokusumo atau akrab disapa Gusti Dipo mengatakan Grebeg Besar merupakan wujud syukur Keraton Solo.

"Sudah sejak zaman dahulu sekali, oleh Keraton. Karena ini memang sebangai ungkapan rasa syukur dari kami kepada Allah," katanya.

Dia menjelaskan dua buah gunungan yang dibawa memiliki arti keseimbangan hidup. Gunungan Jaler, jelasnya, digambarkan dengan sayuran dan bahan pangan mentah, sebagai perlambang suami yang harus mencari makanan. Sedangkan Gunungan Estri, lanjutnya, digambarkan dengan makanan matang seperti rengginang, yang jadi perlambang perempuan harus bisa mengolah, apapun hasil kerja suaminya.

"Jadi itu perlambang keseharian manusia, suami dan istri yang harus selalu bekerja sama dengan maksimal," ungkapnya.

Tokopedia