Duh, Jalur Evakuasi Belum Semuanya Mulus

Kendaraan melintas di jalur evakuasi di Desa Ringinlarik, Kecamatan Musuk, Boyolali Selasa (21/8 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
22 Agustus 2018 20:46 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Akhir pekan lalu, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) merilis informasi terbentuknya kubah lava baru pada Gunung Merapi yakni di permukaan kubah 2010.

Munculnya kubah lava menandai fase erupsi magmatik Gunung Merapi dimulai dengan erupsi cenderung bersifat efusif dan tingkat aktivitas masih ditetapkan waspada. Sementara itu, masyarakat diimbau agar selalu meng-update informasi mengenai aktivitas merapi dari BPPTKG.

Ketua Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Boyolali Bambang Sinungharjo beberapa waktu lalu, mengatakan terkait rilis tersebut pihaknya saat ini melakukan antisipasi sesuai rekomendasi BPPTKG.

“Terkait rilis dari BPPTKG di mana situasi masih waspada, maka kami akan kembali mensosialisasikan penduduk di KRB III tetap meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Senin (20/8/2018).

Sementara itu, letusan gunung yang lebih besar memang tidak pernah diharapkan, namun antisipasi perlu dipersiapkan. Salah satunya adalah memastikan jalur evakuasi bisa digunakan dengan baik untuk memobilisasi masyarakat lereng gunung dalam penyelamatan pada saat bencana letusan gunung terjadi.

Solopos.com mencoba menelusuri jalur evakuasi di wilayah Boyolali, yakni di Ampel, Selo/Cepogo, dan di Musuk. Di Ampel, jalur evakuasi yang dikenal juga dengan jalur Pantaran saat ini kondisinya cukup baik. Pada jalan Ampel-Ngagrong kondisi aspal relatif mulus meski masih terdapat lubang-lubang jalan, seperti yang terlihat di depan Klinik Sumber Waras.

Sedangkan Jalan Kembang-Ngagrong (Ampel) sejak SDN 1 Kembang-Ngegek saat ini bahkan sudah selesai dicor beton sehingga cukup nyaman dilalui kendaraan. “Kondisi jalan ini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Kalau ada apa-apa evakuasi mestinya jadi lebih lancar,” ujar Suparmin, 35, warga Desa Kembang saat ditemui sedang kongkow-kongkow dengan rekannya, Darmadi, 40, Selasa di depan SDN 1 Kembang.

Sementara itu, jalur evakuasi via Selo/Cepogo saat ini sudah bagus. Hampir semua jalan yang juga merupakan jalur Solo-Selo-Borobudur (SSB) ini sudah selesai dibeton. Selain mulus, jalan yang dibangun Pemprov Jawa Tengah (Jateng) ini juga kokoh.

Namun jalur evakuasi ini masih terkendala di Jembatan Grawah di Cepogo. Setelah salah satu lajur jembatan itu patah pada 2017 lalu, sekarang hanya bisa dilalui kendaraan roda empat secara bergantian menggunakan jembatan Bailey sebagai jembatan darurat. Sedangkan kendaraan roda dua masih bisa melintas pada satu lajur jembatan lama yang masih tersisa. 2018, Pemprov Jateng menganggarkan Rp7,5 miliar untuk memulai pembangunan jembatan pengganti. Dalam pantauan Solopos.com di lokasi itu sedang dibangun fondasi ambutmen untuk jembatan baru.

Sementara itu, di jalur evakuasi Musuk (timur) masih terdapat jalan bergelombang dan lubang. Kondisi ini terlihat di Desa Ringinlarik, antara lain di jalan sekitar jembatan batas desa, di depan MI Miftahul Ulum, depan MTs Nurul Islam, dan Pasar
Kebon Luwak.

Salah satu pedagang di kios pasar Pasar Kebon Luwak, Ny. Yoyo, 70, mengatakan, kerusakan jalan tersebut sudah terjadi cukup lama. “Rusak sudah lama. Dulu sudah pernah diperbaiki tapi rusak lagi,” ujarnya.

Sebagai pengguna Jalan, warga Mojosongo ini sangat mengharapkan adanya perbaikan jalan dari Pemkab. “Jalan depan pasar ini kan ramai dilalui orang Musuk yang mau ke Boyolali. Tentunya kami akan sangat senang kalau yang rusak diperbaiki. Apalagi ini kan katanya jalur evakuasi, jadi sangat penting,” kata dia.