Panas Lagi, Keturunan Raja Solo Demo Minta Masuk Istana

Kerabat dan abdi dalem demo di depan Kori Kamandungan Keraton Kasunanan Solo, Kamis (23/8 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
23 Agustus 2018 21:55 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Ontran-ontran Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) kembali memanas. Seratusan Sentana Dalem, Paguyuban Kawulo Surakarta (Pakasa) dan abdi dalem menggelar aksi demo di depan Kori Kamandungan Keraton Solo, Kamis (23/8/2018). Aksi ini sebagai buntut pengusiran adik-adik Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII dari Keraton sejak 15 April 2017 lalu. Sejak saat itu akses Keraton tertutup, mereka menuntut Sinuhun membuka akses tersebut.

Berdasarkan pantauan solopos.com, para pendemo melakukan aksi dengan berjalan kaki dari Sitihinggil menuju Kori Kamandungan. Aksi tersebut digelar tepat seusai rangkaian Grebeg Besar tandingan yang digelar para adik Raja Solo itu, yakni kubu G.K.R. Wandansari atau Gusti Moeng cs.

Dengan mengenakan baju adat Jawa, para kerabat raja ini mereka berkumpul dan membentangkan spanduk tepat di depan Kori Kamandungan. Spanduk itu di antaranya bertuliskan "Keraton Bukan Milik Pribadi Paku Buwono XIII; Mohon Keraton Segera Dibuka untuk Pariwisata dan Pendidikan; Keraton Surakarta Milik Dinasti Mataram Sebagai Aset Bangsa yang Harus Dijaga dan Dilestarikan". Beberapa adik Sinuhun juga sempat berorasi mengutarakan tuntutannya.

Koordinator aksi sekaligus adik PB XIII, Gusti Moeng, mengatakan aksi ini digelar untuk menuntut Sinuhun agar mengembalikan para Sentana Dalem kembali ke dalam Keraton. “Sudah satu tahun lebih kami tidak bisa lagi mengakses Keraton. Tidak hanya untuk bekerja menjalankan tugas mengelola Keraton, bahkan untuk masuk ke dalam saja tidak bisa,” katanya.

Aksi ini tidak akan berhenti begitu saja. Moeng menegaskan akan terus menggelar aksi-aksi serupa sampai dikembalikan ke dalam Keraton. “Kalau perlu sampai tidur di Kamandungan,” tegas dia.

Kerabat Keraton Satriyo Hadinagoro menyebut aksi ini bukan sebagai upaya makar atau menggulingkan Sinuhun, melainkan murni digelar untuk mengembalikan Sinuhun ke khittahnya. “Jadi tidak ada tujuan untuk menggulingkan atau makar. Kami hanya ingin Sinuhun kembali ke khittahnya sebagai raja yang mengayomi Dinasti Mataram,” ujar dia.