Menelusuri Makam Keramat di Desa Glonggong Boyolali

Anak/anak bermain di lingkungan makam yang dipercaya sebagai makam Mbah Dudo oleh warga Desa Glonggong, Nogosari, Boyolali. Mbah Dudo merupakan nenek moyang warga setempat. Foto diambil belum lama ini. (Solopos/Nadia Lutfiana Mawarni)
23 Agustus 2018 20:51 WIB Anik Sulistyawati Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Makam yang terletak di Dusun I, Desa Glonggong, Kecamatan Nogosari, Boyolali itu dipercaya sebagai makam Mbah Dudo. Bagi warga Glonggong Mbah Dudo adalah nenek moyang mereka. Kepala Desa Glonggong, Mulyono, bercerita bahwa dulunya di samping makam Mbah Dudo terdapat sebuah sumber mata air yang ditinggali oleh dua ekor bulus.

Keduanya meninggal di tempat berbeda, salah satu di antara tempat itu kini menjadi Nogosari. “Maka dari itu masih kerap ada yang meminta doa ketika pasangan mau menikah,” ujar Mulyono kepada wartawan Solopos.com, Nadia Lutfiana Mawarni di kantornya Kamis (23/8/2018) pagi.

Selain Mbah Dudo, di Glonggong masih terdapat satu petilasan lain yang dipercaya sebagai makam Kiai Jangkung. Makam yang terletak di Dusun II ini menjadi lokasi ziarah bagi warga Boyolali. Kiai Jangkung merupakan murid Sunan Kalijaga yang dipercaya sebagai pembawa agama Islam ke Glonggong

Mulyono mengatakan dua makam itu berpotensi menjadi objek wisata religi dan sejarah di wilayah Glonggong. Namun dia mengakui apabila pengelolaan masih belum maksimal. “Mungkin bisa segera dimulai dengan mengajukan makam Kiai Jangkung sebagai Benda Cagar Budaya [BCB] karena makam inilah yang lebih dikenal luas,” kata dia.

Dengan begitu makam Mbah Dudo juga bisa diperkenalkan kepada masyarakat luar Nogosari. Apalagi Makam Kiai Jangkung berdekatan letaknya dengan Bendungan Kedungboyo.

Mulyono manambahkan Bendungan Kedungboyo, petilasan Kiai Jangkung, dan petilasan Mbah Dudo sebenarnya bisa dirancang sebagai satu paket wisata dengan dua objek wisata religi dan satu wisata air. Sayang, pengembangan wisata ini masih terhambat pada pembiayaan. Dia menyampaikan saat ini pemanfaatan Dana Desa (DD) masih difokuskan pada pembangunan infrastruktur desa terutama jalan dan talut. “Maka kita butuh dana lain, entah melalui investor atau pihak swasta,” kata dia.

Meski begitu Mulyono mengatakan apabila bisa dikembangkan, ketiganya akan menjadi lahan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) yang dikelola secara mandiri oleh warga setempat. Dengan begitu, selain pendapatan desa, perekonomian warga sekitar juga diharapkan meningkat dengan kedatangan wisatawan.